Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /Å‹/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itÉ™m/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itÉ”m/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...
Seperti sudah disebutkan sebelumnya, estetika yang khas pada kesusastraan zaman Heian adalah aware dan okashi. Pada kesusastraan zaman pertengahan (zaman Kamakura dan Muromachi), estetika ini dipertahankan terus dan dikembangkan secara sistematis berkat jasa Fujiwara Shunzei dan Fujiwara Teika, anaknya.
Pada zaman Heian, aware dan okashi merupakan estetika anggun karena berlandaskan kehidupan bangsawan yang berpusat di kota Kyoto, maka masuraoburi — yang merupakan estetika sejak munculnya Manyoshu pada zaman Nara — terbentuk berlatar belakang kedaerahan dan kehidupan rakyat biasa. Salah satu di antara penyair yang dapat dikatakan mewakili ciri khas estetika Manyoshu adalah shogun pemerintahan Kamakura, yakni Minamoto no Sanetomo.
Estetika yang dimiliki bersama oleh semua jenis seni budaya pada zaman pertengahan adalah yugen dan ushin. Kedua estetika ini memiliki persamaan sebagai simbol estetika, karena pada dasarnya masing-masing memiliki yojo, yakni keindahan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, tetapi hanya dapat dirasakan. Bila mengambil taman sebagai contoh bentuk kebudayaan zaman pertengahan terdiri dari gunung, hutan dan lembah dalam bentuk miniatur. Simbol dan yojo yang terlihat dalam taman yang merupakan miniatur gunung, hutan, dan lembah itu adalah bentuk estetika taman ini. Bentuk estetika ini adakalanya disebut yugen, kadang-kadang disebut juga ushin.
Fujiwara Shunzei menganggap bahwa yugen merupakan ideologi tertinggi sastra. Menurutnya, yugen adalah perpaduan dari aware (keindahan yang tidak semarak) dan taketakakibi (keindahan yang semarak), walaupun sebenarnya dia memberi penekanan pada segi taketakakibi. Adapun putranya, Fujiwara Teika, menganggap bahwa ushin merupakan ideologi tertinggi sastra, dan ushin ini sama seperti yugen, dianggap sebagai perpaduan aware dan taketakakibi. Namun berlainan dengan Shunzei, Teika memberi penekanan pada segi aware.
Dengan demikian, baik yugen maupun ushin adalah estetika — yang pengertiannya dari segi pandangan kesusastraan — merupakan perpaduan antara aware yang memiliki keanggunan dalam kesederhanaa dan taketakakibi yang memiliki kemegahan dan kecemerlangan serta kaya akan simbolisme dan yojo. Estetika ini dapat juga dikatakan sebagai perwujudan estetika gaya, zaman pertengahan, yang isinya berdasarkan tradisi kesusastraan Jepang seperti tertuang dalam Manyoshu, Kokinshu, dan Genji Monogatari. Jadi, walaupun Shunzei dan Teika memberi penekanan pada segi yang berbeda, hal ini terjadi karena yugen maupun ushin adalah estetika yang memiliki sifat simbolisme.
Lawan ushin adalah mushin. Pada zaman pertengahan — sejalan dengan populernya renga — terdapat istilah ushin renga dan mushin renga. Dalam hal ini ushin renga mengacu pada puisi renga yang serius dan memiliki nilai sastra yang tinggi, sedangkan mushin renga mengacu pada puisi renga yang tidak begitu serius karena mengandung unsur gurauan. Dengan demikian, mushin yang menonjolkan unsur gurauan ini mewarisi tradisi okashi yang terdapat pada zaman Heian. Tradisi okashi ini lambat laun mempengaruhi dunia haiku. Namun dewasa ini, ushin umumnya berarti karya yang memiliki bobot filsafat, sedangkan mushin tidak.
Baca: Buku Pengantar Kesusastraan Jepang
Comments
Post a Comment