Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /ŋ/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itəm/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itɔm/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...
17. Kokkeibon
Kokkeibon adalah salah satu jenis novel yang muncul pada akhir zaman Edo. Setelah zaman modern, khazanah novel-novel dalam kesusastraan Jepang disebut sebagai novel Edo. Kokkeibon dibagi dalam dua periode, yaitu periode awal dan periode akhir. Pengarang yang mewakili periode awal adalah Furai Sanjin (Hiragagennai). Furyushi Dokenden karya Furai Sanjin yang terbit pada tahun 1763 memperlihatkan kemahiran pengarang dalam merangkai cerita lucu menjadi sebuah satire atau sindiran yang sangat tajam.
Pada periode akhir zaman Edo bermunculanlah para pengarang berbakat dan karya-karya yang dihasilkan pada periode ini mempunyai ciri yang sangat khas, seperti yang dapat ditemukan pada Dochu Hizakurige karya Jippensha Itsuku. Seperti telah dikatakan sebelumnya bahwa sharebon yang mendapat tekanan pihak Bakufu, oleh Pemerintah Edo kemudian dihidupkan kembali dalam bentuk cerita-cerita lucu selama 20 tahun. Karya ini terbit sebagai cerita bersambung dan mendapat sambutan yang baik dari pembacanya. Selanjutnya, muncul Shikitei Samba dengan karya terbaiknya Ukiyo Buro dan Ukiyo Doko. Kedua karya ini menggambarkan kehidupan pedagang Edo dengan latar belakang sento, pemandian umum di Jepang, dan kamidoko, tempat mencukur rambut sebagai tempat pergaulan rakyat Edo. Penggambaran ceritanya disusun lewat kalimat lucu dengan teknik dialog yang sopistikatif.
Baca: Buku Pengantar Kesusastraan Jepang
Comments
Post a Comment