Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /ŋ/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itəm/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itɔm/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...
1. GARIS BESAR KESUSASTRAAN ZAMAN JOODAI
Batas-batas Joodai Bungaku (Kesusastraan Zaman Joodai)
Joodai Bungaku disebut juga sebagai Kesusastraan Zaman Yamato, karena kegiatan politik serta kebudayaan pada zaman tersebut berpusat di Yamato. Joodai Bungaku ini dapat dipastikan berakhir ketika ibukota pemerintahan pindah ke Heian pada tahun 794, tetapi permulaannya tidak dapat diketahui secara pasti.Latar Belakang Sejarah
Usaha penyatuan negara Jepang mengalami kemajuan sekitar
abad IV sampai abad V dan di bawah Dinasti Yamato berhasil menjadi sebuah
negara kesatuan. Dinasti Yamato ini didirikan oleh beberapa golongan bangsawan.
Diantaranya yang paling berkuasa adalah Keluarga Kaisar, namun Jepang pada
waktu itu belum dapat dikatakan sudah diperintah sepenuhnya oleh Kaisar. Dengan
melalui Pembaharuan Taika pada tahun 645 dan Pemberontakan Jinshin pada tahun
672 sampai pada masa pemerintahan Kaisar Tenmu, Keluarga Kaisar barulah dapat
dikatakan berhasil memastikan dirinya sebagai keluarga yang berkuasa di Jepang.
Sistem baru ini, yakni negara hukum yang berpusat pada Kaisar, menghadapi masa
yang baru dan membawa harapan yang baru pula kepada rakyat.
Dinasti Nara yang mewarisi Dinasti Asuka dan Dinasti
Fujiwara, meneruskan usaha yang telah dilakukan pada masa sebelumnya, sehingga
melahirkan Kebudayaan Tenpyoo yang terkenal itu. Akan tetapi di lain pihak,
karena pada pertengahan Zaman Nara terjadi berbagai peristiwa politik dan
adanya kesulitan ekonomi, maka kebudayaan pada zaman itu mengalami kekurangan
dalam bidang kreativitas.
Dapat ditambahkan bahwa Keluarga Fujiwara yang berjasa dalam
Pembaharuan Taika dan pembentukan Undang-Undang, biarpun sebenarnya berada di
luar Keluarga Kaisar, tetapi mempunyai hubungan yang erat dengan Keluarga
Kaisar. Penting untuk diperhatikan bahwa dalam keadaan ini, Keluarga Fujiwara
berhasil membangun dasar pembentukan sistem pemerintahan yang disebut Sekkan
Seiji untuk masa berikutnya.
Penerimaan Kebudayaan Cina
Sebelum adanya bukti-bukti sejarah yang tertulis, kontak
dengan daratan Cina sudah terjalin. Hubungan tersebut telah terjalin sedemikian
rupa sehingga dari abad III sampai dengan abad V pengiriman utusan sering
sekali terjadi. Setelah itu, yakni pada abad VII dan VIII, Jepang mengirim utusan
yang disebut Kenzuishi dan Kentooshi sebanyak kira-kira 20 kali, untuk
mengimpor Kebudayaan Cina pada masa itu secara sungguh-sungguh.
Pengaruh Kebudayaan Cina ini dapat kita lihat secara nyata
pada cara pembuatan istana dan Undang-Undang yang menjadi dasar negara. Selain
itu buku-buku diimpor banyak sekali, sampai-sampai pada ujian saringan pegawai
pemerintah, buku-buku yang dipakai adalah buku-buku Cina.
Dalam bidang pemikiran, biarpun pada umumnya dipergunakan
Juukyoo (Konfusianisme), tetapi pemikiran Roosoo (singkatan dari nama Lao Tzu
dan Chuang Tzu) juga cukup banyak penggemarnya. Di samping itu agama Budha
juga masuk ke Jepang dan mendapat penganut yang tidak sedikit, terutama
diantaranya adalah Shootoku Taishi dan Kaisar Shoomu. Selama itu banyak sekali
dibuat patung-patung dan kuil-kuli Budha, antara lain Hooryuuji dan Toodaiji.
Di antara unsur-unsur Kebudayaan Cina yang diimpor, yang sangat berpengaruh dan
membuka lembaran baru pada Kesusastraan Jepang adalah tulisan Kanji. Berkat
adanya tulisan Kanji, orang Jepang mulai dapat menulis kesusastraannya.
Selanjutnya tulisan Kanji dikembangkan sampai menghasilkan abjad Hiragana dan
Katakana, sehingga meletakkan dasar untuk perkembangan kesusastraan dengan
abjad Kana (kesusastraan yang ditulis dengan abjad Hiragana dan Katakana) yang
muncul sejak Zaman Heian.
Keadaan Kesusastraan
Pada Joodai Bungaku terdapat suatu masa yang panjang sekali yang
hanya mengandalkan media dari mulut ke mulut. Kesusastraan yang disampaikan
secara lisan ini dalam bahasa Jepang disebut Kooshoo Bungaku. Kooshoo Bungaku
lahir dari kelompok masyarakat dan dinikmati oleh kelompok masyarakat pula.
Karena penyampaiannya secara lisan, maka Kooshoo Bungaku ini bersifat tidak
stabil dan berubah-ubah. Pengaruh Kooshoo Bungaku menjadi berkurang berkat
pemakaian tulisan Kanji dan adanya kesadaran individual. Kesadaran individual
melahirkan kreativitas individual sehingga sifat ketidakstabilan seperti yang
terdapat pada Kooshoo akhirnya tidak kelihatan lagi pada kesusastraan yang
lahir kemudian, yang ditunjang oleh tulisan Kanji. Hilangnya sifat
ketidakstabilan ini dapat kita lihat pada beberapa hasil Kooshoo Bungaku yang
sudah tertulis seperti Kojiki, Nihonshoki dan Fudoki. Selain itu, pantun Waka
yang ada dalam Manyooshuu menunjukkan lahirnya kreativitas individual beserta
kematangannya. Di samping itu, syair yang ada di dalam Kaifuusoo biarpun
merupakan tiruan Kesusastraan Cina, tetapi padanya tetap dapat kita lihat
kreativitas individual.
Beberapa ciri khas Joodai Bungaku adalah :
- Sebagian besar diisi oleh Kooshoo Bungaku yang berpangkal pada rakyat.
- Selebihnya diisi oleh kepopuleran lirik individual yang masih segar karena baru saja lahir dan indah karena sudah memiliki kesempurnaan.
Baca : Buku Sejarah Kesusastraan Jepang

Comments
Post a Comment