Skip to main content

Jenis Fonem

Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /Å‹/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itÉ™m/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itÉ”m/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...

Kata Sambutan

Kata Sambutan


Dalam kelangkaan buku-buku mengenai kebudayaan Jepang maka sudah sewajarnyalah kita bergembira bahwa kepada pembaca Indonesia bisa disajikan terjemahan Sejarah Kesusastraan Jepang ini. Dengan demikian sedikit demi sedikit terbukalah mata kita akan hasil karya sastra dari bangsa-bangsa lain di Asia ini. Kita mengetahui bahwa karya-karya sastra Cina, Jepang, India dan lain-lainnya dari Asia banyak yang bisa diketengahkan sebagai karya sastra dunia, namun karena adanya hambatan bahasa asing yang tidak kita kuasai maka jarang kita bisa menikmati karya-karya tersebut atau bahkan tidak mengetahui bahwa ada karya sastra yang bermutu.

Untuk memberi gambaran mengenai perkembangan kesusastraan Jepang maka para pengajar Seksi Sastra Jepang telah memilih Nihon Bungakushi karangan Ishoji Asoo dkk untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ini merupakan langkah awal yang sangat tepat sehingga pembaca Indonesia bisa mengerti lebih baik tentang kesusastraan Jepang dewasa ini, yaitu dengan mengetahui sejarahnya. Dengan demikian apabila kelak karya-karya sastra Jepang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia lebih banyak lagi, maka kita akan bisa menaruh karya-karya tersebut pada tempatnya atau menurut waktunya.

Penerjemahan buku Isoji Asoo dkk ini juga didorong akan keperluan Seksi Sastra Jepang sendiri akan buku-buku pelajaran mengenai sejarah kesusastraan Jepang. Dengan adanya terjemahan ini maka saya percaya bahwa juga mahasiswa dari seksi-seksi lain dari Fakultas Sastra bisa mengambil manfaat sebesar-besarnya. Dengan demikian pula kita bisa mengharapkan bahwa lebih banyak mahasiswa yang akan mengambil kesusastraan sebagai bidang pengutamaan studinya.

Buku terjemahan Sejarah Kesusastraan Jepang ini sedikit banyak juga merupakan sumbangan untuk mempererat persahabatan kedua bangsa Indonesia dan Jepang melalui salah satu segi kebudayaan yang sangat penting ini. Saya kira kita bisa sependapat bahwa kita bisa memahami bangsa lain dengan mempelajari atau memahami kesusastraannya.

Akhirnya, atas nama Fakultas Sastra Universitas Indonesia saya ingin menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada The Japan Foundation dan kepada tenaga pengajar yang telah diperbantukan kepada kami. Kedua tenaga pengajar tersebut, Prof. Hideaki Kanie dan Prof. Tadahiko Noge, selain membantu pengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia sebagai tugas utamanya, juga telah dengan sukarela meluruskan pengertian-pengertian yang kadang-kadang sukar sekali dicari padanannya dalam bahasa Indonesia dan dengan demikian bisa diperoleh terjemahan yang sebaik-baiknya dan mengurangi distorsi yang mungkin timbul di sana sini. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada para tenaga pengajar Seksi Jepang terutama Saudara Sheddy N. Tjandra dan Jonnie Rasmada Hutabarat yang telah bersusah payah menyelesaikan tugas penerjemahan ini.



                                                                                    Jakarta, September 1981

                                                                                             Gondomono      


Baca : Buku Sejarah Kesusastraan Jepang

Comments

Popular posts from this blog

Buku Komposisi Gorys Keraf

Daftar Isi Buku Komposisi Gorys Keraf Kata Pengantar Daftar Isi PENDAHULUAN Bahasa Aspek Bahasa Fungsi Bahasa Tujuan Kemahiran Berbahasa Manfaat Tambahan Kesimpulan BAB I PUNGTUASI Pentingnya Pungtuasi Dasar Pungtuasi Macam-macam Pungtuasi BAB II KALIMAT YANG EFEKTIF Pendahuluan Kesatuan Gagasan Koherensi yang baik dan kompak Penekanan Variasi Paralelisme Penalaran atau Logika BAB III ALINEA : KESATUAN DAN KEPADUAN Pengertian Alinea Macam-macam Alinea Syarat-syarat Pembentukan Alinea Kesatuan Alinea Kepaduan Alinea 5.1 Masalah Kebahasaan 5.2 Perincian dan Urutan Pikiran BAB IV ALINEA : PERKEMBANGAN ALINEA Klimaks dan Anti-Klimaks Sudut Pandangan Perbandingan dan Pertentangan Analogi Contoh Proses Sebab - Akibat Umum - Khusus Klasifikasi Definisi Luar Perkembangan dan Kepaduan antar alinea BAB V TEMA KARANGAN Pengertian Tema Pemilihan Topik Pembatasan Topik Menentukan Maksud Tesis dan Pengungkapan Maksud ...

Sejarah Kesusastraan Jepang

Buku Sejarah Kesusastraan Jepang (Nihon Bungakushi) oleh Isoji Asoo dkk. Daftar Isi Kata Pengantar Kata Sambutan Catatan dari Penyunting Daftar Isi 1.        KESUSASTRAAN ZAMAN JOODAI 1.   Garis Besar Kesusastraan Zaman Joodai 2.   Mitologi, Legenda dan Dongeng 3.   Norito dan Senmyoo 4.   Nyanyian Zaman Joodai 5.   Manyooshuu 6.   Kanshibun 2.        KESUSASTRAAN ZAMAN HEIAN 1.   Garis Besar Kesusastraan Zaman Heian 2.   Kanshibun, Waka dan Kayoo 3.   Monogatari 4.   Catatan Harian dan Essei 5.   Ceritera Sejarah dan Dongeng 3.        KESUSASTRAAN ABAD PERTENGAHAN 1.   Garis Besar Kesusastraan Abad Pertengahan 2.   Pantun Waka dan Pantun Renga 3.   Monogatari, Setsuwa dan Otogizooshi 4.   Essei, Catatan Harian dan Catatan Perjalanan 5.   Hoogo dan Kanbungaku 6. ...

Tanda-tanda Koreksi

6. Tanda-tanda Koreksi Sebelum menyerahkan naskah kepada dosen atau penerbit, setiap naskah harus dibaca kembali untuk mengetahui apakah tidak terdapat kesalahan dalam soal ejaan , tatabahasa atau pengetikan. Untuk tidak membuang waktu, maka cukuplah kalau diadakan koreksi langsung pada bagian-bagian yang salah tersebut. Bila terdapat terlalu banyak salah pengetikan dan sebagainya, maka lebih baik halaman tersebut diketik kembali. Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu, lazim dipergunakan tanda-tanda koreksi tertentu, sehingga antara penulis dan dosen, atau antara penulis dan penerbit, terjalin pengertian yang baik tentang apa yang dimaksud dengan tanda koreksi itu. Tanda-tanda koreksi itu dapat ditempatkan langsung dalam teks atau pada pinggir naskah sejajar dengan baris yang bersangkutan. Tiap tanda perbaikan dalam baris tersebut (kalau ada lebih dari satu perbaikan pada satu baris) harus ditempatkan berturut-turut pada bagian pinggir kertas; bila perlu tiap-tiapnya d...