Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /ŋ/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itəm/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itɔm/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...
3. Norito dan Senmyoo
Norito dan Senmyoo ini sesudah zaman Nara masih juga terus
diciptakan, tetapi yang mengandung arti kesusastraan hanyalah bentuk Norito dan
Senmyoo yang telah ada sebelum Zaman Nara. Norito ini, yaitu Norito yang
dianggap sebagai kesusastraan Joodai Bungaku adalah 27 pasal yang tertera dalam
Engishiki jilid 8 dan Nakatomi no Yogoto yang merupakan bagian dari Taiki
catatan khusus. Sedangkan Senmyoo adalah 62 perintah Tennoo yang tertera dalam
Shoku Nihongi dan data lain yang terdiri dari 3 pasal. Baik Engishiki maupun
Taiki ini terbentuk sejak zaman Heian, tetapi asal Norito itu sendiri telah ada
jauh sebelumnya. Senmyoo mulai diciptakan sesudah Monmu Tennoo sampai dengan
awal Kanmu Tennoo.
Sesuai dengan sifatnya, yaitu Norito dipergunakan untuk
berhubungan dengan dewa-dewa dan Senmyoo dipakai untuk menyampaikan perintah
dan dekrit Tennoo kepada masyarakat, agar tidak ada kesalahan membacanya,
dibuatlah semacam catatan pada tulisan-tulisan tersebut. Karena itu kita dapat
mengetahui bahasa lisan kuno berdasarkan catatan tersebut, dan di samping itu
dijelaskan juga dengan baik tentang kepercayaan dan cara berpikir manusia yang
hidup pada zaman tersebut.
Norito
Norito seperti yang terdapat di dalam buku Engishiki cukup
panjang, dan berkembang terus sampai pertengahan abad ke VII, tetapi apakah
sesudah itu masih berkembang terus masih merupakan tanda tanya.
Kelihatannya Norito ini berasal dari mantera-mantera yang
sederhana. Akan tetapi kemudian berkembang menjadi suatu cara untuk menyembah
dan meminta kepada dewa-dewa, menerangkan tentang asal usul terjadinya suatu
festival, untuk menjelaskan keturunan dewa yang difestivalkan beserta amal yang
dilakukannya, tentang menyusun barang sajian dan lain-lain. Kemudian Norito ini
menjadi bertambah panjang karena terbentuknya doa-doa pendahuluan dan penutup,
ditambah dengan ciri khas cara memperindah gaya bahasanya.
Baik mantera maupun Norito mempunyai tujuan yang sama yaitu
untuk memanggil dewa-dewa dengan kekuatan doa-doa itu sendiri. Pekerjaan Dewa
tempat orang mengajukan permohonan dalam Norito antara lain adalah membuat
banyaknya hasil panen, membuat masyarakat penuh dengan kedamaian, kemakmuran
keraton, mencegah bahaya dan mencegah roh jahat, menghapuskan dosa dan
ketidaksucian. Selain itu dapat juga dilihat adanya permintaan agar Kaisar
maupun negara yang diperintahnya mengalami kemakmuran, kestabilan masyarakat
dan kehendak akan kemurnian jiwa, badaniah dan rohaniah.
Selain mencoba menghapuskan dosa secara hukum dan moral, di
dalam Norito dapat juga dilihat cara meniadakan penderitaan yang ditimbulkan
oleh alam, seperti kelumpuhan, buta dan lain-lain yang dianggap terjadi karena
manusia telah berbuat dosa. Pengertian dosa pada waktu itu tentu saja berbeda
dengan sekarang. Jelas sekali kelihatan keinginan akan lahirnya manusia yang
sehat badan dan jiwanya.
Norito juga digunakan untuk memuja dewa-dewa yang dipuja
oleh Keluarga Tennoo dan yang berasal dari arwah nenek moyang Keluarga Tennoo.
Selain itu digunakan juga untuk memuja dewa lain, sehingga membuktikan bahwa
obyek permohonan tidak hanya ditujukan pada satu dewa saja. Banyak juga Norito
yang berisi ucapan-ucapan syukur karena permohonannya dipenuhi, ada juga yang
hanya berisi hal-hal yang berhubungan dengan pemberian barang sajian. Selain
itu ada juga yang berisi sumpah untuk berbakti kepada Tennoo di samping memuji
dan mengharapkan kemakmurannya.
Norito ini diucapkan dengan bahasa yang penuh rasa, sehingga
berbeda dengan bahasa yang dipergunakan sehari-hari. Sedapat mungkin harus
mempunyai keindahan bahasa yang dibacakan dengan hikmat agar berkenan di hati
dewa yang dipuja. Cara membaca dan memilih kata-kata yang indah ini melahirkan
suatu bentuk gaya bahasa yang indah pula, seperti penggunaan antitese,
pengulangan, perumpamaan dan lain-lain, sehingga melahirkan bentuk khas Norito.
Gaya bahasa tersebut memberi pengaruh pada chooka yang terdapat dalam
Manyooshuu.
Senmyoo
Senmyoo ini telah ada sejak dahulu kala, tetapi yang
disebutkan Senmyoo biasanya adalah yang tertulis dalam Shoku Nihoni seperti
tertera di atas. Senmyoo yang ditulis dengan Kokubuntai ini berkembang dengan
timbulnya peristiwa besar nasional, seperti penobatan dan penggantian Tennoo,
cara pemilihan permaisuri, menetapkan nama zaman, cara menetapkan atau
menghapuskan pangeran ahli waris tahta kerajaan, cara memuliakan orang yang
bekerja keras dan orang yang berusaha, cara penerimaan upeti, pemberian
pangkat, cara menghukum dan membebaskan orang-orang yang berdosa, serta
memberikan petunjuk-petunjuk tentang apa
yang dimaksudkan dengan dosa, dan lain-lain.
Disamping kepercayaan bahwa keturunan Tennoo sejak Takama no
Hara adalah Arahitohami, ada juga kelihatan pemikiran-pemikiran yang
didatangkan dari luar Jepang, seperti Jukyoo (Konfusianisme) yang membahas alam
semesta ini, kepercayaan akan ramalan dan pertanda yang baik, dan juga
kepercayaan akan agama Budha. Karena adanya hal-hal tersebut, berlainan dengan
Norito, Senmyoo menggambarkan keadaan zaman pada masa yang bersangkutan.
Sampai-sampai ada juga Senmyoo yang mencatat bahwa digalinya emas untuk pertama
kalinya di Jepang adalah berkat anugerah dari patung Budha di Toodaiji.
Pengaruh pemikiran yang berasal dari luar ini tidak dianggap membahayakan negara dan singgasana kekaisaran, melainkan
untuk memelihara dan memberikan kemakmuran bagi Kaisar.
Senmyoo ini dipakai sebagai alat komunikasi antara Kaisar
dan rakyat, bukan antara manusia dan dewa seperti halnya Norito. Isinya disusun
secara konkrit, kalimat maupun maksud yang terkandung di dalamnya dinyatakan
secara jelas. Di antaranya ada juga yang berisi penghukuman orang-orang yang
berkhianat, penghargaan kepada orang yang berjasa, memberikan nasehat dan
penerangan kepada orang banyak.
Senmyoo juga kadang-kadang menguraikan tentang apa yang
dinamakan Akaki, Kiyoki, Naoki dan Makoto. Sikap mental seperti ini merupakan sikap
yang harus diperlihatkan terhadap Tennoo. Kalau kita lihat dan perhatikan apa
yang dinamakan sifat kemurnian dalam memuja dewa seperti yang tertera dalam
Norito dan keindahan syair yang ada di dalam Manyooshuu maka akan dapatlah kita
menangkap dalam arti yang luas apa yang disukai dan dimuliakan oleh orang
Jepang pada zaman Joodai, seperti dituangkan dalam Akaki, Kiyoki dan Naoki
tersebut di atas.
Senmyoo ini ditulis dengan huruf Kanji dan disampingnya
dibuat keterangan dengan huruf kecil Manyoogana, dengan mempergunakan partikel,
kata kerja bantu, akhiran dan lain-lain. Senmyoo ini ditulis seperti berikut :
Amenoshita no ohomitakara o megubitama hi nadetamaha mu tonamo
Cara penulisan Norito sama dengan cara penulisan Senmyoo
yang dinamakan Senmyoogaki. Cara ini adalah cara yang praktis untuk mencegah
agar jangan sampai terjadi salah baca. Cara penulisan dengan menggabungkan atau
mencampurkan tulisan Kana dan Kanji yang terjadi pada zaman sesudahnya berasal
dari metode tersebut.

Comments
Post a Comment