Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /ŋ/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itəm/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itɔm/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...
19. Kritik Sastra (Hyoron)
Objek yang akan dibahas pada bagian ini adalah kritik sastra pada khususnya, dan kesenian pada umumnya. Perjalanan sejarah kritik sastra (hyoron) Jepang, dapat ditinjau kembali sampai dengan Manyoshu dan Kakyo Hyoshiki (772) pada "Kokinshu Jo", yaitu pendahuluan Kokinshu, ada suatu keinginan menyusun risalah waka yang sangat kuat sehingga perlu pula dibicarakan teori waka. "Kokinshu Jo" boleh dikatakan adalah cikal bakal kritik sastra.
Sesungguhnya, kritik sastra yang banyak ditulis sampai zaman modern terutama sekali adalah karon (risalah waka) dan hairon (risalah haiku). Contoh kritik sastra yang menonjol adalah Koraifu Taisho karya Fujiwara Shunsei dan Kindai Shuka karya Fujiwara Teika yang juga menyusun Shinkokinshu. Mumyosho adalah karonsho — teori waka — yang paling penting, merupakan karya Kamono Chomei. Memasuki zaman Muromachi, Zeami mengeluarkan nohgakusho, buku tentang noh yang disebut Yugen Noh.
Pada zaman Edo, hairon disebarluaskan sebagai pengganti karon dan rengaron. Hairon yang terkenal adalah Kyorai karya Mukai Kyorai dan Sanzoshi karya Hattori Tobo. Karena Basho tidak menulis kritik maka murid-muridnya melanjutkan dan membukukan tulisan Basho. Oleh sebab itu pula, di dalam buku tersebut diuraikan pengertian pandangan kesusastraan haikai Basho yang terdiri dari wabi dan sabi.
Untuk menerangkan kesusastraan dan kesenian melalui kritik dan analisis, kesusastraan dan kesenian sebagai objek penelitian, dituntut mempunyai kualitasnya sendiri. Oleh karena itu, hubungan antara kesusastraan dan kesenian dengan kehidupan masyarakat perlu diterangkan.
Baca: Buku Pengantar Kesusastraan Jepang
Comments
Post a Comment