Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Komposisi Gorys Keraf

Jenis Fonem

Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /Å‹/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itÉ™m/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itÉ”m/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...

Bibliografi

                                                  BIBLIOGRAFI Ali Lukman, ed. Bahasa dan Kesusastraan Indonesia sebagai Tjermin Manusia Indonesia Baru (BKI). Jakarta: Gunung Agung, 1967. Alisyahbana, S. Takdir. Dari Perdjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (PBI). Djakarta: P.T. Pustaka Rakyat, 1957. Basis. Majalah Bulanan, Yogyakarta. Campbell, William Giles. Form and Style in Thesis Writing. Boston: Houghton Mifflin Company, 1967. Intisari. Majalah bulanan, Jakarta. Keraf, Gorys. Tatabahasa Indonesia, Ende: Nusa Indah, 1977. Knight, T.W. A New Comprehensive English Course. London: University of London Press, Ltd., 1958. Kompas. Harian untuk Umum, Jakarta. Kridalaksana, Harimurti dan Djoko Kentjono, ed. Seminar Bahasa ...

Cara Menganalisa

9. Cara Menganalisa Sebagai penutup dari uraian mengenai presentasi lisan dari sebuah komposisi, akan diberikan sebuah contoh untuk mengkonkritkan teknik untuk menganalisa pendengar dan situasi sehingga pembicara dapat menyusun bahan-bahannya lebih terarah. Andaikan seorang mendapat tugas untuk membicarakan sebuah topik menyangkut kegemaran (hobby). Kesempatan pembicaraan itu adalah suatu pertemuan periodik dari suatu perkumpulan. Berdasarkan data-data yang dikumpulkan, pembicara mencoba membuat analisa sebagai berikut, sehingga memudahkan ia mengumpulkan materi yang lebih menarik untuk mencapai tujuannya. A. B. C. D. E. F. G. H. Topik Judul Tujuan Umum Tujuan Khusus Pendengar Kesempatan yang khusus Analisa Pendengar 1. Jumlah hadirin 2. Kelamin/Usia 3. Pekerjaan 4. Pengetahuan tentang subyek 5. Perhatian utama 6. Sikap yang telah ...

Penyajian pada Kelompok Besar

8.2 Penyajian pada Kelompok Besar Apa yang telah dikemukakan untuk menghadapi kelompok kecil berlaku pula untuk kelompok besar. Di samping itu beberapa petunjuk diperhatikan pula oleh pembicara yang khusus menghadapi kelompok besar. a. Pembukaan Sebelum mulai pembicara menggunakan satu dua menit untuk mengukur situasi. Pembicara melayangkan pandangannya sebentar kepada hadirin untuk mendapatkan suatu kesan singkat mengenai semua orang yang berkumpul. Waktu yang singkat ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menaksir jumlah pendengar, kesan tentang kemampuan intelektual hadirin, dsb. Juga ia perlu memperhatikan apakah tempat berdirinya sudah cocok dengan letak mike agar dapat dipergunakan sebaik-baiknya. Yang paling penting adalah komunikasinya dengan massa pendengar. Sebab itu jangan tergesa-gesa masuk dalam materi pembicaraan. Pembicara yang berpengalaman akan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tampaknya tidak sesuai dengan introduksi dalam arti kata yang s...

Penyajian pada Kelompok Kecil

8.1 Penyajian pada Kelompok Kecil a. Gerak-gerik Para hadirin yang hadir dalam suatu presentasi lisan , tidak hadir untuk mendengar suara dari rekaman atau radio, tetapi ingin mendengar sesuatu langsung dari seorang manusia. Mereka ingin mendengar ucapan seseorang secara langsung, ingin melihat manusia seutuhnya dan sekaligus berkomunikasi dengan manusianya itu. Inilah yang mendorong mereka datang. Oleh sebab itu setiap pembicara harus memperlihatkan dirinya betul-betul sebagai seorang manusia yang hidup. Gerak-geriknya harus lincah, bebas, tidak kaku. Ia bukan saja mengadakan komunikasi melalui ucapan-ucapannya, tetapi juga mengadakan komunikasi melalui tatapan matanya, air muka, dsb. sama seperti dua orang yang berbicara berhadap-hadapan. Karena alasan inilah maka membaca dari naskah akan mengandung kelemahan yang besar, yaitu bahaya hilangnya kontak pandangan antara pembicara dan pendengar. Mimik, wajah mukanya pun harus diekspresi sesuai dengan isi pembicaraannya. b. T...

Penyajian Lisan

8. Penyajian Lisan Penyajian lisan merupakan puncak dari seluruh persiapan yang akan dilakukan melalui ketujuh langkah di atas, khususnya latihan oral. Latihan oral ini dianggap begitu penting sehingga pada jaman klasik Yunani-Latin, para orator biasanya mengadakan latihan intensif sebelum menyampaikan pidatonya di depan suatu massa. Latihan-latihan tersebut biasanya diadakan di tepi pantai, sehingga mereka dapat mengukur volume suara mereka. Bila suara mereka dapat mengatasi deburan dan gemuruh ombak, maka itu berarti mereka dapat menyampaikan dengan jelas pidato mereka di depan massa. Namun hal semacam itu tidak perlu dilakukan dewasa ini. Dengan alat-alat pembesar suara, masalah volume suara tidak menjadi persoalan. Namun latihan-latihan pendahuluan (langkah ketujuh) tetap diperlukan untuk membiasakan diri dan menemukan cara dan gaya yang tepat. Dalam bagian ini akan dikemukakan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyajian lisan, baik yang menyangkut penyajian lisan...

Menyiapkan Catatan

7.2 Menyiapkan Catatan Sesuai dengan metode-metode penyajian lisan sebagai sudah dikemukakan di atas, maka metode ekstemporan merupakan metode yang jauh lebih efektif dari semua metode lain. Metode membaca dari naskah hanya akan baik kalau sifat penyajian itu sangat resmi. Suatu variasi dari metode ekstemporan ialah pembicara menyiapkan sebuah naskah yang lengkap untuk penyajian lisannya, namun untuk presentasi oralnya sendiri naskah itu hanya berfungsi sebagai catatan atau pemandu. Pembicara akan berbicara secara bebas tanpa membaca dari naskah itu. Naskah tersebut bukanlah catatan sebagai yang dimaksud di sini untuk metode ekstemporan. Di bawah ini akan dibicarakan secara khusus masalah pembuatan catatan sebagai suatu cara persiapan untuk penyajian dengan metode ekstemporan. Juga perlu ditegaskan pula bahwa yang dimaksud dengan catatan tidak sama dengan kerangka karangan. Kerangka karangan hanya berfungsi untuk menyusun informasi dan tidak merupakan cara yang baik sebagai cat...

Teknik Penyusunan Bahan

7. Penyusunan Bahan 7.1 Teknik Penyusunan Bahan Seperti sudah dikemukakan di atas, penyusunan bahan-bahan dilakukan melalui tiga tahap yaitu mengumpulkan bahan, membuat kerangka karangan , dan menguraikan secara mendetail. Dalam hubungan ini tidak akan diadakan uraian lebih lanjut mengenai ketiga tahap itu, karena prosedur dan tekinknya sama dengan komposisi tertulis. Dalam bagian ini akan dikemukakan beberapa aspek tambahan yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan untuk disampaikan secara lisan. Bila diadakan perbandingan mengenai sikap pembaca pada komposisi tertulis dan sikap pendengar pada komposisi lisan, maka setiap pembaca biasanya akan membaca terus selama ia masih tertarik akan isi bacaannya, atau akan memilih bagian-bagian tertentu saja yang dianggapnya baik. Bila sama sekali tidak menarik, maka segera akan ditinggalkannya. Sebaliknya para hadirin bagaimanapun harus tetap mendengar uraian lisan sampai selesai, namun sikap yang ada pada tiap pendengar akan b...

Penyesuaian Diri

6. Penyesuaian Diri Bagaimanapun setiap pembicara akan merasa kekhawatiran sebelum menyampaikan uraiannya. Pembicara yang berpengalaman akan menghadapi situasi ini dengan melakukan dua hal: pertama, ia akan menyiapkan dan mempelajari topik pembicaraannya dengan sebaik-baiknya, dan kedua, mengadakan konsentrasi kepada kebutuhan pendengar, sehingga nilai informasinya tidak akan diragukan. Atau dengan kata lain pembicara berusaha menyesuaikan dirinya sebaik-baiknya dengan kebutuhan dan situasi yang ada pada pendengar sendiri. Sebab itu hasil dari analisa situasi dan analisa pendengar akan turut menentukan bagaimana harus mengadakan penyesuaian yang diperlukan. Reaksi-reaksi yang timbul pertama-tama biasanya reaksi kepada pembicara, bukan kepada materi pembicaraan. Maka pembicaralah yang pertama-tama harus berusaha untuk mengadakan penyesuaian itu. Tujuan yang paling dasar bukanlah agar pembicara dan pendengar terdapat persesuaian pendapat mengenai hal yang diuraikan. Sikap pembic...

Menganalisa Pendengar

5.2 Menganalisa Pendengar Ada beberapa topik yang dapat dipakai untuk menganalisa pendengar yang akan dihadapi. Pembicara umumnya telah diberitahu pendengar mana yang akan hadir dalam pertemuan tersebut. Sebab itu sebelum ia menganalisa pendengar berdasarkan beberapa topik khusus, ia harus mulai dengan data-data umum. a. Data-data Umum Data-data umum yang dapat dipakai untuk menganalisa para hadirin adalah: jumlah, kelamin, usia, pekerjaan, pendidikan, dan keanggotaan politik atau sosial.   Jumlah yang hadir dapat diketahui segera dari mereka yang mengorganisasi kesempatan itu. Jenis kelamin: apakah pendengar terdiri dari pria saja atau wanita saja, atau campuran. Mengetahui jenis kelamin hadirin akan memudahkan pembicara untuk memilih perincian atau ilustrasi yang sesuai. Pokok mana yang disukai wanita, mana yang disukai pria, atau pokok mana yang disukai baik pria maupun wanita. Usia mereka akan menentukan sampai di mana daya tangkap mereka, dan pokok-pokok mana ya...

Menganalisa Situasi

5. Menganalisa Situasi dan Pendengar 5.1 Menganalisa Situasi Seringkali pembicara terlalu yakin bahwa apa yang dibicarakan sebegitu pentingnya sehingga lupa memperhatikan siapa pendengarnya, bagaimana latar belakang kehidupan mereka, serta bagaimana situasi yang ada pada waktu presentasi oralnya berlangsung. Karena kealpaannya memperhatikan hal-hal tersebut maksudnya tidak tercapai, tujuannya tidak mengenai sasarannya. Sebab itu pertama-tama sebelum mulai berbicara, atau bila perlu jauh sebelumnya, ia sudah harus menganalisa situasi yang mungkin ada pada waktu akan dilangsungkan presentasi oralnya, bagaimana keadaan di tempat itu dan bagaimana keadaan sekitar pendengar-pendengarnya. Dalam menganalisa situasi ini, akan muncul persoalan-persoalan berikut: Apa maksud hadirin semua berkumpul untuk mendengarkan uraian itu? Apakah pembicara menghadapi anggota-anggota perkumpulannya atau suatu massa yang berkumpul dengan maksud tertentu? Atau apakah mereka berkumpul itu secar...