Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /ŋ/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itəm/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itɔm/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...
2. Mitologi (Shinwa), Legenda (Densetsu) dan Dongeng (Setsuwa)
Shinwa, Densetsu, dan Setsuwa semuanya berasal dari Kooshoo Bungaku. Dewasa ini tertinggal dalam bentuk tulisan yaitu Kojiki, Nihonshoki, Kogoshuui dan juga cuplikan-cuplikan kalimat yang dimuat dalam buku Fudoki yang terdapat di beberapa daerah seperti daerah Hitachi (sekarang bernama Propinsi Ibaraki), Harima (sekarang bernama Propinsi Hyoogo) Izumo (sekarang bernama Propinsi Shimane), Bungo (sekarang bernama Propinsi Ooita) dan Hizen (sekarang adalah daerah yang ada di antara Propinsi Saga dan Propinsi Nagasaki).
Isi dan cara pengungkapan Kooshoo Bungaku ini mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Bentuk tertulis ceritera ini yaitu seperti buku-buku tersebut di atas, karena mempergunakan huruf Kanji, menghilangkan sifat dasarnya sebagai Kooshoo Bungaku. Walaupun demikian mempunyai nilai yang tinggi dan dianggap sebagai karya kesusastraan tertulis tertua dari ceritera rakyat Jepang.
Shinwa
Shinwa adalah ceritera yang berintikan para dewata, mengenai asal mula terjadinya alam semesta, manusia, negara, dan kebudayaan. Ia berbentuk surrealis. Tentang terjadinya alam semesta dan lain-lainnya diceriterakan dengan cara yang sangat sederhana, bila kita bandingkan dengan dunia modern dewasa ini, sangat tidak logis.Mitologi Jepang umumnya terdapat pada bagian pendahuluan Kojiki, catatan tentang dewa-dewi pada Nihonshoki dan pada Kogoshuui. Buku Kogoshuui ini timbul setelah zaman Heian (tahun ke-2 pemerintahan Kaisar Daidoo, 807). Buku Kojiki dan Nihonshoki disusun atas perintah Kaisar Tenmu (673-686). Kojiki terdiri dari 3 jilid yaitu permulaan, tengah dan akhir, ditulis oleh Oo no Yasumaro berdasarkan ceritera yang disampaikan oleh Hieda no Are pada tahun ke-5 pemerintahan Kaisar Wadoo (712). Sedang Nihonshoki terdiri atas 30 jilid dengan tambahan 1 jilid daftar silsilah yang dijadikan satu, disusun di bawah pimpinan Pangeran Toneri pada tahun ke-4 pemerintahan Kaisar Yooroo (720). Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Nihonshoki lebih dahulu selesai ditulis dari Kojiki.
Nihonshoki ditulis dengan mempergunakan huruf Kanji, isinya lebih objektif, sedangkan Kojiki penyampaiannya lebih bersifat subjektif, bahasanya hidup penulisannya diusahakan menurut bahasa asli Jepang dan umunya lebih bercorak kesusastraan.
Mitologi Kiki (Kojiki dan Nihonshoki) menceriterakan tentang hal usul alam semesta, terbentuknya daratan, lahirnya para dewa-dewi, terjadinya negara Jepang dan keagungan Keluarga Kaisar. Buku ini ditulis pada masa Kaisar memegang kekuasaan mutlak, sehingga jalan ceriteranya pun disusun sedemikian rupa untuk membuktikan kepada rakyat betapa besar dan mulianya Keluarga Kaisar. Beberapa petikan dari ceritera-ceritera Kiki ini menceriterakan bahwa Keluarga Kaisar selalu dihormati dan diagungkan sejak terbentuknya alam semesta.
Mitologi Jepang ini mempunyai susunan yang lengkap karena ceritera mengenai para dewata saling berhubungan satu sama lain. Mitologi berasal dari buah khayalan dan ceritera orang-orang dulu, yang timbul karena adanya kontak peristiwa antara alam dengan manusia. Ceritera aslinya mungkin lebih hidup dan sederhana dibandingkan dengan ceritera-ceritera yang tertinggal sekarang.
Seperti telah dikatakan sebelumnya, bentuk ceritera dari mulut ke mulut sebagian besar sudah hilang. Sisanya walaupun sedikit tetapi masih menunjukkan keindahan yang bersifat klasik. Di antaranya adalah mitologi “Kiki” yang mengandung ceritera dewa-dewi yang sangat terkenal, misalnya:
- Kunjungan Dewa Izanaki no Mikoto ke negara neraka
- Upacara menyucikan diri
- Doa permohonan Dewi Amaterasu Omikami dan Dewa Susa no Onomikoto
- Menaklukkan raja ular berkepala delapan
- Kunjungan Pangeran Nushi dari negara Okuni ke negara Ne no Katasu
- Hubungan antara Takama no Hara dengan Izumo
- Ceritera mengenai Dewi Kono Hana no Sakuya Bime dan Dewi Iwa Naga Hime
- Ceritera mengena Dewa Umisachie Biko dan Dewa Yamasachi Biko.
Densetsu
Bila dibandingkan dengan ceritera mitologi, Densetsu yang tidak jelas siapa pencetusnya ini lebih memiliki sifat kenyataan yang kuat; berhubungan dengan tempat dan periode tertentu, tokohnya pun biasanya terdiri dari orang yang terkenal dalam sejarah atau pahlawan. Tetapi biarpun demikian, Densetsu ini tidak merupakan kenyataan atau ceritera sejarah yang benar-benar terjadi, melainkan ceritera yang memang mempunyai latar belakang sejarah yang dibumbui dengan fiksi atau pengalaman seseorang. Sebagai contoh, dalam Kojiki jilid 2 dan jilid 3, begitu juga dalam Nihonshoki banyak ditulis tentang Jinmu Tennoo yang penuh fiksi. Tokoh utamanya yaitu Tennoo, Permaisuri, dan juga anak-anaknya dianggap memiliki kekuatan seperti dewa. Selain itu adalah legenda Jinmu Tenno dan legenda Yamato Takeru no Mikoto, yang melukiskan kejayaan Dinasti Yamato pada waktu meluaskan daerahnya ke Timur dan ke Barat.Sebenarnya hal ini berlangsung dalam jangka waktu yang sangat panjang, tetapi diungkapkan hanya sebagai pekerjaan satu orang yang dilakukan dalam waktu yang sangat singkat. Pengungkapan seperti ini merupakan suatu cara yang lazim dipakai dalam pencetusan Densetsu maupun Shinwa yang tidak jelas siapa yang memulainya.
Setsuwa
Tokoh dalam Setsuwa ini tidak terbatas pada dewa-dewa atau orang yang tercantum dalam lembaran sejarah saja, tetapi sering juga terdapat tokoh yang namanya tidak dikenal. Malah ada kalanya menampilkan binatang maupun tumbuh-tumbuhan. Dewa yang dijadikan sebagai tokoh hanyalah sebagai dewa biasa, tidak diagungkan seperti halnya dalam Densetsu yang ada sebelumnya, melainkan dianggap sama halnya seperti manusia biasa.Setsuwa memiliki sifat konkrit, peristiwa yang diungkapkan di dalamnya tersusun pendek dan lebih teratur, ada yang bersifat surrealis, berbeda dengan pengungkapan dalam Shinwa dan Densetsu. Isinya sering pula mengungkapkan tentang perasaan, harapan dan cara berpikir rakyat jelata. Hal ini dapat ditemukan dalam beberapa bagian dari Kojiki dan Nihonshoki, terutama dalam Fudoki. Kapan ceritera Fudoki lahir tidak diketahui dengan jelas, tetapi beberapa di antaranya sudah ada pada awal zaman Nara. Fudoki kemudian disusun berdasarkan perintah Tenno pada tahun 6 Wado (713). Ciri khas Fudoki adalah banyak menceriterakan tentang suatu daerah, di antaranya yaitu menceriterakan tentang asal-usul nama daerah tertentu. Bentuk kalimatnya, seperti halnya Kojiki ada yang cenderung ke bahasa Jepang asli, ada pula yang memakai kalimat-kalimat puitis yang bersifat bahasa Cina klasik.
Di dalam kumpulan ceritera-ceritera agama Buddha yang berjudul Nihon Ryooiki dikatakan bahwa Fudoki disusun pada awal Zaman Heian dengan penambahan ceritera tentang kehidupan dan cara berpikir rakyat jelata pada zaman sebelum Nara.
Setsuwa dan Hubungannya dengan Kesusastraan
Setsuwa pada hakekatnya sangat sederhana sehingga hampir belum dapat dikatakan sebagai kesusastraan. Akan tetapi kalau kita perhatikan, baik jalan ceriteranya maupun cara pengungkapannya, seperti yang menonjol dalam Fudoki, Nihonshoki maupun Kojiki ini, kiranya cocok sekali kalau kita golongkan ke dalam Joji Bungaku (Kesusastraan Epic).Memang hampir tidak pernah diungkapkan tentang perasaan seseorang secara khusus dengan terperinci, tetapi biasanya dilukiskan dalam bentuk suatu kelompok masyarakat. Dalam ceritera kesusastraan sebelum zaman Nara, ada juga beberapa ceritera yang sejenis dengan ceritera di luar Jepang, misalnya Ceritera Urashima, Ceritera Hagoromo (Ceritera Hakuchoo Shojo), Ceritera Miwayama dan sebagainya.
Baca : Buku Sejarah Kesusastraan Jepang

Comments
Post a Comment