Skip to main content

Jenis Fonem

Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /Å‹/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itÉ™m/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itÉ”m/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...

Guru: Pembelajaran

Guru: Pembelajaran


Ada banyak pendapat dan sudut pandang (pro dan kontra) tentang belajar dengan seorang guru drum private. Drummer yang tidak pernah belajar dengan cara ini sering mengkritik guru drum. Para guru drum mengkritik satu sama lain, kadang secara pribadi, kadang di depan publik. Para drummer muda mungkin merasa bahwa belajar membaca notasi musik tidak penting. Beberapa pengajar musik di akademi merasa bahwa para guru drum menekankan rudiment (dasar-dasar permainan) dan teknik tanpa memberikan pengetahuan yang memadai tentang musik itu sendiri. Drummer profesional kadang kala mengkritik para guru drum private. Argumen itu berlangsung terus menerus, tahun demi tahun.

Yang menakjubkan adalah bahwa para drummer muda baru senantiasa hadir di kancah profesional dengan latar belakang yang amat beragam. Beberapa pemain yang benar-benar mahir tidak bisa membaca notasi musik. Sementara yang lain memiliki pengetahuan luar biasa tentang musik dan permainan drum. Beberapa drummer tidak pernah belajar cara bermain drum secara reguler. Yang lainnya mengikuti studi yang intens dengan penuh disiplin selama bertahun-tahun.

Saya merasa bahwa, meskipun latar belakang mereka berbeda-beda, semua pemain terampil memiliki ciri-ciri umum. Ciri-ciri itu adalah mereka mampu mengajari diri mereka sendiri, atau untuk belajar sendiri, bagaimana dan apa yang ingin mereka mainkan. Ini bukan berarti bahwa pelatihan tidak bermanfaat. Seorang guru yang baik bisa memberikan banyak hal kepada muridnya. Sayangnya dia tidak bisa memasukkan kemampuan, bakat, atau hasrat ke dalam diri si murid.

Tidak ada guru yang bisa mengajarkan cara bermain kepada seseorang. Ini harus dipelajari lewat pengalaman dan jam terbang. Tapi janganlah kita meremehkan pentingnya seorang guru yang baik. Ia bisa membantu muridnya melalui berbagai cara. Ia bisa melakukan hal-hal berikut :
  1. Membantu murid mengembangkan teknik yang baik. 
  2. Membantu murid belajar membaca notasi musik.
  3. Membantu murid belajar mendengarkan (ear training).
  4. Membantu murid bersiap untuk situasi kontes, audisi, dan kerja.
  5. Memberikan dukungan.
  6. Menyampaikan kritik dan reevaluasi ketika muridnya mulai berlebihan dalam menilai prestasinya, atau ketika si murid mulai menganggap dirinya sebagai yang paling hebat.
  7. Menyebutkan nama-nama drummer yang permainannya perlu didengarkan oleh si murid.
  8. Membantu murid mengembangkan kesadaran dan pengertian mengenai gaya-gaya permainan yang berbeda.
  9. Mendiskusikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh muridnya. Beberapa pelajaran terbaik muncul dari aktivitas ini.
  10. Membantu muridnya mempelajari dasar-dasar musik serta permainan drum.

Dengan membagi pengetahuann serta pengalaman, guru tersebut bisa menghemat waktu murid yang berharga dengan menghindari metode trial and error. Kalau begitu mengapa saya berkata bahwa tidak ada guru yang bisa mengajarkan "cara bermain"?

Kawan baik saya, Paul Kush, yang mengajar drummer muda di California, berkata kepada para muridnya, “Lima puluh persen yang kalian butuhkan bisa dikembangkan dan dipelajari melalui studi dan praktek. Lima puluh persen sisanya harus kalian pelajari sendiri dengan keluar dan bermain bersama musisi lainnya.”

Dasar-dasar musik dan permainan drum adalah sama bagi siapa pun. Seorang pengajar tidak perlu menjadi seorang maestro terlebih dahulu untuk bisa mentransfer pemahaman tentang dasar-dasar ini kepada seorang anak muda. Malah sebenarnya beberapa pemain yang piawai bukan guru yang hebat. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki kesabaran yang dibutuhkan untuk mengajar secara efektif. Saya amat beruntung belajar dari para pemain profesional yang mampu mengartikulasikan pengalaman mereka. Ini adalah tipe guru yang bisa membantu murid tingkat lanjut bertransisi menjadi seorang pemain profesional.

Idealnya, pengajaran menjadi pengalaman kreatif baik bagi guru maupun muridnya. Maksud saya, para guru yang benar-benar baik akan belajar dari pengalaman dan dari muridnya secara terus menerus.

Salah satu masalah yang dihadapi oleh murid yang tingkatannya lebih tinggi adalah bahwa dia sudah terlanjur mengembangkan kebiasaan dan cara-cara tertentu untuk melakukan segala sesuatu pada saat dia mulai dibimbing oleh seorang pengajar profesional top atau ketika memasuki sekolah atau akademi musik. Jim Petercsak, yang mengajar perkusi di Potsdam University di New York, telah mengembangkan cara yang sensitif dan cerdas dalam menghadapi situasi ini. Jim berkata, “Saya tidak pernah mencoba mengubah teknik murid saya, atau memaksanya bermain dengan cara lain. Saya hanya menambahkan apa yang sudah dia miliki. Lebih mudah membentuk kebiasaan baru daripada meninggalkan kebiasaan lama.”

Bob McKee, seorang kawan baik saya yang mengajar di Cleveland, Ohio, merasa bahwa tantangan terberat seorang guru adalah mempersiapkan si murid untuk bermain dengan baik dalam berbagai gaya. Dia benar! Sering kali disitulah letak perbedaan antara bermain dan tidak bermain drum, terutama bagi seorang drummer muda.

Bermain dalam gaya yang berbeda membutuhkan pemahaman tentang musik yang hendak dimainkan. Ini lebih dari sekadar belajar ‘beat’. Bob berhasil membantu murid-muridnya belajar menghadapi gaya yang berbeda dan berbagai situasi musikal. Banyak mantan muridnya sekarang bermain di band-band kondang dan band-band profesional dengan bayaran yang layak.

Berikut ini adalah sedikit panduan untuk memilih seorang guru :
  1. Cobalah berwawancara dengan guru tersebut atau bicaralah dengan beberapa muridnya. Ini akan memberimu ide mengenai spesialisasi guru tersebut dan apa yang bisa kamu pelajari. Tidak setiap guru bisa menawarkan apa yang paling menarik hatimu. Pada tingkat tertentu, hal ini tergantung pada pengalaman guru tersebut dan apa yang menurutnya penting untuk ditekankan kepada muridnya.
  2. Hindari guru yagn sering mengkritik pemain drum atau guru lainnya. Masing-masing orang boleh berpendapat, tetapi pembentukan ego yang defensif dan menyita waktu murid bukan bagian dari proses pengajaran.
  3. Hindari guru yang sering kali bermain lebih lama ketimbang muridnya selama jam pelajaran. Ada saat-saat ketika hal ini perlu dilakukan untuk memperjelas keterangan yang diberikan, tapi ini adalah pengecualian dan bukan acara rutin.
  4. Hindari guru yang menghabiskan banyak waktu menjelaskan teori-teori “aneh” tanpa atau minim aplikasi praktek. Percakapan dan penjelasan memang dibutuhkan, tapi jika terlalu banyak waktu dihabiskan untuk berfilosofi, guru tersebut hanya akan memberi kesan melebih-lebihkan kehebatan dirinya.

Para guru yang baik menekankan dasar-dasar musik dan permainan drum. Mereka berusaha keras membantu si murid mengembangkan perlengkapan dan pengetahuan yang akan dibutuhkannya dalam rangka mengembangkan gayanya sendiri. Dengan membagi pengalaman, mereka bisa menghemat banyak waktu seorang drummer muda, yaitu menghindari kesulitan yang tidak diharapkan dan mencegah timbulnya kebiasaan buruk.

Orang yang paling penting dalam proses pembelajaran adalah si murid itu sendiri. Pada akhirnya, kita sendirilah yang menentukan sampai seberapa banyak yang ingin kita pelajari. Sikap, hasrat, kemauan untuk bekerja, dan kemampuan alami adalah unsur-unsur kunci bagi pembelajaran. Perlengkapan terpentingmu adalah pikiranmu, telingamu, dan dorongan semangat untuk sukses.


Baca: Buku Panduan Menjadi Drummer Profesional

Comments

Popular posts from this blog

Buku Komposisi Gorys Keraf

Daftar Isi Buku Komposisi Gorys Keraf Kata Pengantar Daftar Isi PENDAHULUAN Bahasa Aspek Bahasa Fungsi Bahasa Tujuan Kemahiran Berbahasa Manfaat Tambahan Kesimpulan BAB I PUNGTUASI Pentingnya Pungtuasi Dasar Pungtuasi Macam-macam Pungtuasi BAB II KALIMAT YANG EFEKTIF Pendahuluan Kesatuan Gagasan Koherensi yang baik dan kompak Penekanan Variasi Paralelisme Penalaran atau Logika BAB III ALINEA : KESATUAN DAN KEPADUAN Pengertian Alinea Macam-macam Alinea Syarat-syarat Pembentukan Alinea Kesatuan Alinea Kepaduan Alinea 5.1 Masalah Kebahasaan 5.2 Perincian dan Urutan Pikiran BAB IV ALINEA : PERKEMBANGAN ALINEA Klimaks dan Anti-Klimaks Sudut Pandangan Perbandingan dan Pertentangan Analogi Contoh Proses Sebab - Akibat Umum - Khusus Klasifikasi Definisi Luar Perkembangan dan Kepaduan antar alinea BAB V TEMA KARANGAN Pengertian Tema Pemilihan Topik Pembatasan Topik Menentukan Maksud Tesis dan Pengungkapan Maksud ...

Sejarah Kesusastraan Jepang

Buku Sejarah Kesusastraan Jepang (Nihon Bungakushi) oleh Isoji Asoo dkk. Daftar Isi Kata Pengantar Kata Sambutan Catatan dari Penyunting Daftar Isi 1.        KESUSASTRAAN ZAMAN JOODAI 1.   Garis Besar Kesusastraan Zaman Joodai 2.   Mitologi, Legenda dan Dongeng 3.   Norito dan Senmyoo 4.   Nyanyian Zaman Joodai 5.   Manyooshuu 6.   Kanshibun 2.        KESUSASTRAAN ZAMAN HEIAN 1.   Garis Besar Kesusastraan Zaman Heian 2.   Kanshibun, Waka dan Kayoo 3.   Monogatari 4.   Catatan Harian dan Essei 5.   Ceritera Sejarah dan Dongeng 3.        KESUSASTRAAN ABAD PERTENGAHAN 1.   Garis Besar Kesusastraan Abad Pertengahan 2.   Pantun Waka dan Pantun Renga 3.   Monogatari, Setsuwa dan Otogizooshi 4.   Essei, Catatan Harian dan Catatan Perjalanan 5.   Hoogo dan Kanbungaku 6. ...

Tanda-tanda Koreksi

6. Tanda-tanda Koreksi Sebelum menyerahkan naskah kepada dosen atau penerbit, setiap naskah harus dibaca kembali untuk mengetahui apakah tidak terdapat kesalahan dalam soal ejaan , tatabahasa atau pengetikan. Untuk tidak membuang waktu, maka cukuplah kalau diadakan koreksi langsung pada bagian-bagian yang salah tersebut. Bila terdapat terlalu banyak salah pengetikan dan sebagainya, maka lebih baik halaman tersebut diketik kembali. Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu, lazim dipergunakan tanda-tanda koreksi tertentu, sehingga antara penulis dan dosen, atau antara penulis dan penerbit, terjalin pengertian yang baik tentang apa yang dimaksud dengan tanda koreksi itu. Tanda-tanda koreksi itu dapat ditempatkan langsung dalam teks atau pada pinggir naskah sejajar dengan baris yang bersangkutan. Tiap tanda perbaikan dalam baris tersebut (kalau ada lebih dari satu perbaikan pada satu baris) harus ditempatkan berturut-turut pada bagian pinggir kertas; bila perlu tiap-tiapnya d...