Skip to main content

Jenis Fonem

Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /Å‹/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itÉ™m/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itÉ”m/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...

Sistem Motivasional

Sistem Motivasional


5. Sistem Motivasional


Sistem motivasional sebagaimana dimaksudkan dalam penggunaannya di sini mengacu kepada pengaturan motivasi pribadi dalam kaitannya dengan sistem sosial. Dengan demikian, dia mempunyai aspek ganda: di satu pihak, keterikatan terhadap nilai-nilai dan kebutuhan-kebutuhan fungsional dalam sistem sosial, dan di pihak lain, penanganan ketegangan yang muncul dalam pribadi dengan cara sedemikian sehingga tersedia saluran pelepasan tanpa harus membahayakan fungsi sistem sosial.

Sosialisasi, sebagaimana kita lihat, merupakan fungsi yang sangat penting dari sistem motivasional. Dia merupakan proses yang dilewati oleh individu untuk akhirnya dapat menginternalisasikan norma-norma moral dan menjadikannya terikat kepada pola-pola kelembagaan. Sebagaimana juga dalam semua masyarakat, keluarga merupakan fokus utama sosialisasi. Walaupun sangat sulit untuk berbicara tentang sosialisasi dalam keluarga pada masa Tokugawa karena tidak adanya data primer tentang itu, agaknya masih mungkin bagi kita untuk melakukannya dengan cara menarik kesimpulan dari bukti-bukti yang terdapat tentang sosialisasi yang dilakukan di beberapa kalangan masyarakat Jepang modern yang masih konservatif. Berdasarkan penyimpulan tersebut dapatlah dikemukakan beberapa catatan penting, walaupun sifatnya mungkin masih tentatif. Pada bagian awal masa kanak-kanak, pada umumnya anak diperlakukan dengan penuh kasih dan kemanjaan. Mereka diperbolehkan untuk mengekspresikan sikap agresif, asertif dan kerakusan dalam ukuran yang jauh lebih dibanding yang diperbolehkan untuk orang dewasa. Mungkin prinsip serba boleh pada masa awal ini dapat dipakai untuk menjelaskan kecenderungan hedonisme dan nafsu memperluas kekuasaan dan kekayaan yang nampaknya selalu laten dalam watak orang Jepang. Sebaliknya, disiplin-disiplin tertentu, terutama latihan toilet, diperkenalkan sejak sangat dini dan dengan sangat keras ditekankan. Dengan demikian dalam beberapa hal seorang anak dituntut untuk mengikuti dengan ketat satu standar tertentu dari sejak usia sangat dini. Dengan semakin bertambahnya usia menuju masa remaja jumlah tuntutan yang harus dipatuhi meningkat cukup tinggi. Dia diperkenalkan kepada dunia dengan keterikatan yang ketat kepada bentuk-bentuk adat dan tuntutan yang tinggi akan prestasi yang akan membentuk kerangka bagi kehidupan dewasanya. Tentu saja, kelas sosial menimbulkan perbedaan yang lebar dalam hal tuntutan ini, dalam arti tuntutan di kelas atas jauh lebih dibanding tuntutan untuk mereka yang di kelas yang lebih rendah. Uraian yang diberikan di sini mungkin lebih tepat menggambarkan tuntutan di kelas atas. Tuntutan akan konformitas dan keberhasilan ditanamkan lebih melalui tekanan-tekanan psikologis daripada melalui hukuman-hukuman fisik, walaupun hukuman fisik nampaknya umum juga digunakan di semua kelas terhadap anak-anak yang bertingkah tak pantas. Tekanan psikologis utama yang digunakan adalah ancaman penolakan yang dilambangkan secara nyata oleh penghapusan hak warisan. Dikucilkan sendirian tanpa dukungan sanak famili dalam satu masyarakat seperti Jepang jelas merupakan kemungkinan terburuk yang paling tidak diharapkan.

Sikap dasar sebagaimana ditanamkan dalam keluarga juga ditemui di dunia luar. Sekolah-sekolah menggunakan banyak waktu untuk mengajarkan buku-buku moral yang mengulang tuntunan dan tuntutan yang sama sebagaimana dipelajari anak di rumah. Kelompok lima keluarga, desa, gilda, dan sebagainya, semuanya menuntut sikap keterikatan dan prestasi yang tinggi yang harus dipegang oleh semua anggotanya. Lebih jauh, pelanggaran atas standar-standar ini tidak akan didukung oleh keluarga tetapi kemungkinan besar akan mendatangkan pembalasan yang keras darinya.

Hal kedua yang berkaitan dengan pengaturan motivasi adalah kesadaran akan perlunya keseimbangan antara produksi dan konsumsi. Dari apa yang telah dikemukakan mengenai tuntutan yang tinggi akan prestasi tidaklah mengherankan jika dalam banyak hal semua itu tercermin dalam lingkup adaptif, dan motivasi untuk melakukan pekerjaan produktif selalu didorong. Secara khusus, keterampilan dan penguasaan teknik dihargai sangat tinggi baik di kalangan pengrajin maupun seniman. Walaupun perbedaan martabat berdasarkan keahlian ini terhalang oleh adanya sistem kelas yang berdasar keturunan, dan di dalam serta di antara kelas-kelas itu dengan kontrol kekuasaan, dalam konteks yang lebih sempit martabat mungkin berkaitan langsung dengan tingkat-tingkat keterampilan dan produktivitas, yang pada gilirannya tercermin dalam posisi kekuasaan yang dipunyai. Sebagai misal, seorang juru tulis yang berhasil membuktikan bahwa dia mampu dengan sangat baik menangani urusan bisnis tuannya, akan diberi usaha sendiri setelah mengabdi selama dua puluh tahun atau lebih. Walaupun keterampilan nampaknya mempunyai nilai tersendiri yang dalam beberapa konteks dianggap mempunyai arti penting yang hampir-hampir religius—penguasaan yang sempurna atas suatu keterampilan menyangkut penguasaan atas diri yang, berarti orang telah sampai pada titik pencerahan—produktivitas atau kerja nampaknya secara umum dinilai sebagai sumbangan kepada tujuan kelompok atau lebih sebagai suatu pemenuhan kewajiban, daripada untuk tujuan tindakan itu sendiri. Sulit untuk diingkari bahwa kerja untuk orang Jepang mempunyai nilai tersendiri, tetapi mungkin tepat jika dikatakan bahwa nilai itu merupakan motivasi sekunder. Satu indikasi untuk ini adalah relatif mudahnya orang Jepang mengundurkan diri dari posisi-posisi tanggung jawab penting pada usia yang belum tua untuk mengabdikan dirinya pada kegiatan estetik serta bersenang-senang, dan menyerahkan beban pekerjaan tersebut kepada mereka yang lebih muda. Kecenderungan ini sangat bertentangan dengan kesulitan psikologis yang hebat yang dialami orang di masyarakat Barat dalam menghadapi masa pensiun karena untuk mereka bekerja sebagai tujuan merupakan nilai sentral. Menarik juga untuk diperhatikan bahwa walaupun beban utama kerja telah dilepaskan oleh para pensiunan Jepang, mereka sering kali masih mempunyai minat yang besar untuk memegang dan mengatur kekuasaan. Hal ini menunjukkan sekali lagi betapa pentingnya arti menguasai orang lain, mempunyai kekuasaan, dibanding arti produktivitas sebagai satu tujuan.

Dalam kaitannya dengan konsumsi sikap yang cenderung asketis tercermin dalam banyak hal. Namun, sebagaimana juga produktivitas, terasa bahwa asketisme itu tidak dipandang sebagai satu tujuan tetapi lebih sebagai sarana, baik sebagai cara untuk mencapai tujuan kolektif maupun sebagai cara latihan dan disiplin pribadi. Pada waktu dan konteks di mana kedua pertimbangan itu tidak berlaku satu tindakan pemuasan diri secara sensual yang dilakukan relatif tanpa menimbulkan konflik, umum dilakukan.

Jika analisis ini benar, dapat dikatakan bahwa tingkat nyata dari motivasi yang diberikan kepada produksi atau konsumsi tidak ditentukan oleh mekanisme motivasional yang ketat atau relatif independen tetapi sangat ditentukan dan tergantung pada tujuan kolektif dan tujuan pribadi, yang dalam hal ini keduanya ditentukan oleh waktu dan situasi.

Hal ketiga yang mengatur motivasi adalah keseimbangan antara kepentingan umum dan kepentingan pribadi. Arti penting negara dan pengabdian kepada atasan yang merupakan ciri masa itu tidak bisa tidak telah menyebabkan didahulukannya kepentingan umum dari kepentingan pribadi. Pada umumnya hal ini ditunjukkan melalui ketaatan memelihara perilaku yang dianggap sesuai untuk setiap orang sesuai kelompok sosialnya. Inilah yang disebut "tahu diri". Tahu diri mencakup ketaatan kepada semua tatanan dan adat selain menyadari kewajiban orang sesuai statusnya dan kesadaran untuk tidak melanggar hak prerogatif status orang lain. Dalam kondisi seperti ini, upaya mewujudkan kepentingan pribadi tetap saja sepenuhnya sah. Namun, dalam situasi tertentu seperti adanya ancaman atas keamanan kolektivitas membutuhkan bantuan, kepentingan umum menjadi utama tidak hanya di atas segala kepentingan pribadi, termasuk nyawa, tetapi juga mengatasi ketaatan kepada tradisi adat atau kewajiban status.

Terlihat di sini bahwa keseimbangan antara kepentingan umum dan pribadi sangat dipengaruhi oleh perubahan pola tujuan-tujuan kolektif.

Namun, pengaturan permasalahan kepentingan pribadi tidaklah semudah sebagaimana diuraikan di atas. Jalan menuju kepuasan pribadi sering kali juga jalan menuju pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, dalam kolektivitas semacam itu perjuangan memperebutkan kekuasaan sering kali bisa sangat keras. Faksi-faksi sebagaimana telah digambarkan sangat banyak, tetapi selain itu elemen yang sepenuhnya pribadi dalam percaturan kekuasaan itu tidak dapat diabaikan. Bagaimanapun, hal ini tak terelakkan dalam masyarakat yang menilai sangat tinggi kekuasaan politik. Tujuan orang yang ambisius dalam masyarakat seperti ini adalah mengontrol kegiatan orang lain. Bahkan pengumpulan kekayaan, sebagaimana dikemukakan oleh John Pelzel, sering kali merupakan cara untuk tujuan tersebut. Tentu saja, perebutan kekuasaan ini harus dibungkus dalam selubung kesetiaan atau pengabdian. Selubung itu sering kali menerawang, tetapi sangat sedikit yang mampu membuangnya.

Sejauh ini kita telah membahas pengaturan motivasi dengan memperhatikan keterikatan kepada nilai-nilai dan kebutuhan-kebutuhan fungsional sistem sosial. Sekarang marilah kita lanjutkan dengan membahas secara singkat penanganan ketegangan yang muncul dalam diri para anggota sistem sosial tersebut. Tidak mengherankan jika masyarakat yang menuntut keterikatan yang sangat tinggi kepada tujuan-tujuan sistem dan sangat memperhatikan prestasi yang berkaitan dengan tujuan-tujuan tersebut, telah menimbulkan suatu tingkat ketegangan yang tinggi dalam sistem kepribadian para anggotanya. Pengaturan atas ketegangan yang meluas tersebut sangat penting bagi berfungsinya masyarakat sehingga diperlukan cara-cara yang dilembagakan dan pola-pola sosial untuk menanganinya. Tuntutan kelompok yang sangat tinggi akan prestasi, hukuman yang berat atas kegagalan berprestasi, seperti penolakan oleh kelompok, ditambah kenyataan bahwa prestasi seseorang selalu dalam beberapa hal mengandung problematika, tak pelak lagi menciptakan kecemasan tak terbatas dalam kepribadian orang. Perhatian yang besar dari orang Jepang akan yang serba apik, akan kerapian sesuai pola yang teratur, mungkin bisa diartikan sebagai cara untuk menangani kecemasan tak terbatas tersebut. Penciptaan suatu dunia yang rapi dan teratur merupakan ekspresi simbolik kebutuhan dari dalam untuk menciptakan kerapian dan keteraturan dalam rangka menghadapi ancaman kecemasan yang mengambang bebas. Ulasan yang serba mungkin dapat diterapkan pada perhatian yang besar akan kerapian dan keteraturan dalam masyarakat Jerman. Tetapi kontras antara keduanya sangat mencolok. Dalam masyarakat Jerman universalisme lebih mendominasi partikularisme, dan keteraturan yang diciptakan adalah keteraturan universalistik. Keteraturan itu bisa mengambil bentuk keteraturan teoritis, rasional-filsafati, atau ilmiah, atau perhatian yang besar akan sistem dan rasionalitas dalam masyarakat itu sendiri, atau dapat muncul sebagai ekspresi dalam bentuk "abstraksi" dalam seni atau arsitektur. Sedangkan kepedulian orang Jepang akan yang serba apik dan keteraturan mencerminkan dominannya partikularisme dalam sistem nilai orang Jepang. Karena itu, dia cenderung lebih estetik daripada kognitif. Dalam kaitannya dengan alam perhatian utamanya bukanlah untuk menemukan keteraturan melalui kualitas-kualitas abstrak yang paling umum dari alam itu sendiri, melalui hukum-hukum ilmiah, tetapi lebih untuk mendapatkannya melalui hal-hal yang mempersatukan manusia dengan alam, dalam hubungan antara bentuk-bentuk luar dengan perasaan dalam, dalam terciptanya kesatuan harmonis antara jiwa saya dengan "jiwa" alam. Dalam masyarakat, keteraturan dicari bukan melalui penerapan sistematis dari prinsip-prinsip dan aturan-aturan umum, tetapi dengan cara setiap orang bertindak sesuai dengan apa yang dianggap "pantas" dalam setiap jenis hubungan yang terjadi. Dengan demikian, dalam seni orang Jepang berusaha untuk menangkap hal-hal yang khusus dari suatu obyek, bukan untuk menonjolkan keterkaitannya kepada kategori-kategori umum. Kesenian Jepang tidak pernah bersifat abstrak sebagaimana pengertiannya di Barat. Bahkan dalam seni filosofis para pelukis Zen apa yang mereka lakukan adalah menunjukkan melalui goresan cepat dan sekilas bahwa ciri dunia terletak para partikularitasnya, dan bahwa setiap partikularitas itu adalah suatu perwujudan sempurna. Satu kenyataan yang berulang-ulang ditekankan oleh D.T. Suzuki adalah bahwa seni Zen bukan untuk ditafsirkan, sebagaimana banyak dilakukan oleh orang Barat, sebagai cara untuk menunjukkan sudut pandang absolut Hegelian yang melatabelakangi setiap realitas.

Bukti adanya kecemasan yang mengambang luas di kalangan orang Jepang terlihat sangat jelas di bidang lain, kesehatan. Perhatian besar yang mendekati sikap hipokondria, yaitu kecemasan berlebihan akan kesehatan, telah mendorong munculnya bisnis obat-obatan dalam skala yang sangat besar. Hal ini terjadi baik di masa modern maupun ketika obat-obat paten menjadi sangat populer di Jepang. Di sini kecemasan yang ada mengambil bentuk somatik dan usaha untuk menciptakan keteraturan dan kontrol dilakukan melalui penggunaan obat-obatan.

Penting untuk diingat bahwa keluarga dalam masyarakat Tokugawa dalam banyak hal merupakan jagad kecil yang merupakan bagian dari keseluruhan masyarakat, yang mempunyai sistem nilai yang sama dan dirasuki oleh kecemasan yang sama sebagaimana seluruh masyarakat. Keluarga, dengan demikian, bukanlah tempat pelarian dari masyarakat,(23) sebagaimana yang nampaknya terjadi di masyarakat Amerika modern, di mana keluarga adalah suatu wilayah untuk bersantai dan menunjukkan ekspresi emosional, yang terpisah dari tuntutan-tuntutan keras dunia kerja. Namun orang Jepang dengan tingkat kecemasan tinggi yang tak terbatas jelas membutuhkan wilayah serupa sebagai pelarian dari tuntutan-tuntutan masyarakat. Dalam konteks inilah pertumbuhan rumah-rumah hiburan dapat dijelaskan. Tempat-tempat ini menawarkan tempat pelarian yang memungkinkan ketegangan dapat dikendorkan melalui kepuasan sensual dalam anggur dan perempuan atau melalui partisipasi tidak langsung dalam teater. Beberapa jenis hubungan persahabatan yang sangat erat dan melibatkan perasaan yang dalam antar sesama jenis juga mempunyai peran serupa.

Untuk menutup pembahasan tentang sistem motivasional ini kita perlu menoleh kepada religi, yang kami anggap berkaitan dengan masalah kepribadian dan situasi darurat yang dialaminya dalam hubungannya dengan masyarakat terutama dalam hal keterikatan kepada nilai-nilai luhur dan upaya penanganan frustasi dasar. Karena bab-bab berikut akan membahas religi Jepang secara rinci, di sini kita akan menyinggungnya secara umum saja dulu. Religi memberikan konteks makna fundamental kepada sistem nilai dasar melalui kenyataan bahwa kolektivitas utama dalam masyarakat—bangsa dan keluarga—dipandang sebagai lembaga religius dan juga lembaga sekular. Kesetiaan kepada kolektivitas dan pimpinannya tidak hanya mempunyai arti keduniaan tetapi juga satu arti keabadian; pemenuhan kewajiban kepada mereka dari satu sudut dapat diartikan sebagai kewajiban religius dengan cara-cara yang akan dibahas pada bab-bab berikut. Bertindak setaat mungkin terhadap nilai-nilai politik dalam masyarakat dengan cara mengabdi sepenuhnya kepada para atasan partikularistik, dan menunjukkan pengabdian ini dengan cara berprestasi sebaik mungkin dan terus menerus sesuai tujuan kolektif, dianggap sebagai cara terbaik untuk mendapatkan restu dan lindungan para dewa atau untuk mencapai kondisi harmoni dengan kenyataan abadi. Pada dasarnya tercapainya restu dan lindungan para dewa atau tercapainya kondisi pencerahan semacam inilah yang merupakan cara terbaik utuk mengatasi frustasi dan kegelisahan eksistensial. Walaupun religi negara dan keluarga dalam banyak hal merupakan aspek penting dalam religi Jepang pada era Tokugawa, terdapat juga sejumlah sekte religi dan gerakan yang berinduk kepada lembaga-lembaga independen. Beberapa bagian dari kenyataan ini, yang nanti akan dibahas secara rinci, memainkan peran penting dalam memperkuat keterikatan kepada nilai-nilai dasar dengan cara menekankan hakikat keabadian dan arti penting ikatan tersebut. Dengan demikian semua itu mempengaruhi isi dan intensitas religi bangsa dan keluarga. Dengan menguatkan kesetiaan kepada nilai-nilai abadi, agama juga mempunyai pengaruh terhadap sistem motivasional sebagaimana telah kita bicarakan dalam bagian ini yaitu, memperkuat keterikatan kepada pola-pola kelembagaan yang merupakan tujuan utama sosialisasi, menguatkan rasa tanggung jawab kepada produktivitas dan konsumsi, dan menekankan tanggung jawab umum lebih dari tanggung jawab pribadi. Dalam hal ini, dengan mempengaruhi keseimbangan motivasional sehubungan dengan masalah tersebut, religi mempunyai dampak tidak langsung terhadap subsistem lain dalam masyarakat. Kuatnya tanggung jawab pada pola-pola institusional mempunyai pengaruh penting terhadap subsistem integratif maupun institusional. Keseimbangan antara tanggung jawab terhadap produktivitas atau konsumsi memiliki suatu pengaruh penting terhadap subsistem adaptif maupun ekonomis. Dan akhirnya keseimbangan tanggung jawab kepada kepentingan umum dan pribadi mempunyai pengaruh penting atas subsistem pencapaian tujuan atau subsistem politik. Tidak hanya hubungan dari setiap subsistem motivasional dengan lainnya yang terpengaruh, tetapi sebagai akibat dari pengaruh-pengaruh tersebut hubungan satu subsistem, dengan lainnya juga terpengaruh. Kita akan kembali ke masalah ini dalam bagian kesimpulan dari bab ini Secara keseluruhan buku ini dimaksudkan untuk melacak dan mempelajari pengaruh-pengaruh ini.



Baca: Buku Religi Tokugawa, Akar-akar Budaya Jepang



------------------------------
(23) Di sini sekali lagi kita harus memperhatikan perbedaan besar yang terdapat antar kelas. Apa yang dikemukakan di sini lebih banyak berlaku untuk kelas atas, termasuk juga di dalamnya chonin dan samurai.

Comments

Popular posts from this blog

Buku Komposisi Gorys Keraf

Daftar Isi Buku Komposisi Gorys Keraf Kata Pengantar Daftar Isi PENDAHULUAN Bahasa Aspek Bahasa Fungsi Bahasa Tujuan Kemahiran Berbahasa Manfaat Tambahan Kesimpulan BAB I PUNGTUASI Pentingnya Pungtuasi Dasar Pungtuasi Macam-macam Pungtuasi BAB II KALIMAT YANG EFEKTIF Pendahuluan Kesatuan Gagasan Koherensi yang baik dan kompak Penekanan Variasi Paralelisme Penalaran atau Logika BAB III ALINEA : KESATUAN DAN KEPADUAN Pengertian Alinea Macam-macam Alinea Syarat-syarat Pembentukan Alinea Kesatuan Alinea Kepaduan Alinea 5.1 Masalah Kebahasaan 5.2 Perincian dan Urutan Pikiran BAB IV ALINEA : PERKEMBANGAN ALINEA Klimaks dan Anti-Klimaks Sudut Pandangan Perbandingan dan Pertentangan Analogi Contoh Proses Sebab - Akibat Umum - Khusus Klasifikasi Definisi Luar Perkembangan dan Kepaduan antar alinea BAB V TEMA KARANGAN Pengertian Tema Pemilihan Topik Pembatasan Topik Menentukan Maksud Tesis dan Pengungkapan Maksud ...

Sejarah Kesusastraan Jepang

Buku Sejarah Kesusastraan Jepang (Nihon Bungakushi) oleh Isoji Asoo dkk. Daftar Isi Kata Pengantar Kata Sambutan Catatan dari Penyunting Daftar Isi 1.        KESUSASTRAAN ZAMAN JOODAI 1.   Garis Besar Kesusastraan Zaman Joodai 2.   Mitologi, Legenda dan Dongeng 3.   Norito dan Senmyoo 4.   Nyanyian Zaman Joodai 5.   Manyooshuu 6.   Kanshibun 2.        KESUSASTRAAN ZAMAN HEIAN 1.   Garis Besar Kesusastraan Zaman Heian 2.   Kanshibun, Waka dan Kayoo 3.   Monogatari 4.   Catatan Harian dan Essei 5.   Ceritera Sejarah dan Dongeng 3.        KESUSASTRAAN ABAD PERTENGAHAN 1.   Garis Besar Kesusastraan Abad Pertengahan 2.   Pantun Waka dan Pantun Renga 3.   Monogatari, Setsuwa dan Otogizooshi 4.   Essei, Catatan Harian dan Catatan Perjalanan 5.   Hoogo dan Kanbungaku 6. ...

Tanda-tanda Koreksi

6. Tanda-tanda Koreksi Sebelum menyerahkan naskah kepada dosen atau penerbit, setiap naskah harus dibaca kembali untuk mengetahui apakah tidak terdapat kesalahan dalam soal ejaan , tatabahasa atau pengetikan. Untuk tidak membuang waktu, maka cukuplah kalau diadakan koreksi langsung pada bagian-bagian yang salah tersebut. Bila terdapat terlalu banyak salah pengetikan dan sebagainya, maka lebih baik halaman tersebut diketik kembali. Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu, lazim dipergunakan tanda-tanda koreksi tertentu, sehingga antara penulis dan dosen, atau antara penulis dan penerbit, terjalin pengertian yang baik tentang apa yang dimaksud dengan tanda koreksi itu. Tanda-tanda koreksi itu dapat ditempatkan langsung dalam teks atau pada pinggir naskah sejajar dengan baris yang bersangkutan. Tiap tanda perbaikan dalam baris tersebut (kalau ada lebih dari satu perbaikan pada satu baris) harus ditempatkan berturut-turut pada bagian pinggir kertas; bila perlu tiap-tiapnya d...