Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /Å‹/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itÉ™m/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itÉ”m/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...
d. Pudarnya Aliran Shinkankakuha
Seperti sudah diterangkan sebelumnya, aliran Shinkankakuha terjadi sebagai pembaharuan yang terpaksa dilakukan untuk membenahi kota Tokyo yang hancur karena gempa dan kebakaran. Pemuda-pemuda yang meninggalkan desanya terbawa arus urbanisasi, mabuk oleh suasana kota, mekanisasi, dan segala sesuatu yang dilihat dan dialaminya di kota Tokyo. Mereka merasakan kebebasan yang tidak mungkin didapat dan dialaminya di tengah-tengah komunitasnya di desa. Walaupun demikian, bukan berarti bahwa hati mereka tentram dan penuh harapan, bahkan sebaliknya, mereka merasakan suatu kehampaan dan kegelisahan. Tidak sedikit dari mereka ini ingin menuangkan keadaan psikologis yang dialaminya dalam bentuk karya sastra. Kataoka Teppei, misalnya, sering menyinggung masalah kiamat, sedangkan Nakagawa Yoichi menekankan keadaan penyakit manusia. Yokomitsu Riichi juga dalam banyak karyanya berkali-kali melukiskan keterbatasan manusia, diombang-ambingkannya manusia oleh suatu kekuatan lain yang perkasa, sedangkan karya Kawabata Yasunari sebagian besar di antaranya tidak menggambarkan dunia realita.
Karya anggota aliran Shinkankakuha ini boleh dikatakan mengandung segi-segi nihil yang terjadi karena perasaan hampa di kota besar, sebagai akibat kehidupan keras dan penuh persaingan yang menjadikan orang makin egois. Pada permulaan zaman Showa, ketimpangan-ketimpangan yang terjadi akibat kapitalisme akhirnya membuat beberapa anggota Shinkankakuha condong ke kiri dan bergabung dengan aliran kesusastraan proletar. Akibatnya, terjadilah perpecahan di dalam tubuh aliran Shinkankakuha itu sendiri dan pada gilirannya menyebabkan berakhirnya kegiatan aliran ini, yang ditandai dengan berhentinya majalah Bungei Jidai yang terbit untuk terakhir kalinya pada bulan Maret 1927.
Baca: Buku Pengantar Kesusastraan Jepang
Comments
Post a Comment