Skip to main content

Jenis Fonem

Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /Å‹/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itÉ™m/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itÉ”m/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...

Chikamatsu Monzaemon (Pengarang Ningyo Joruri)

Chikamatsu Monzaemon (Pengarang Ningyo Joruri)


a. Chikamatsu Monzaemon (Pengarang Ningyo Joruri)


Chikamatsu adalah seorang penulis drama. Dia merupakan satu dari tiga sastrawan besar Jepang pada tahun Genroku (zaman pramodern). Dua sastrawan lain adalah Matsuo Basho, penyair, dan Ihara Saikaku, penulis novel. Chikamatsu dikenal juga sebagai Shakespeare-nya Jepang. Selain sebagai penulis ningyo joruri (sandiwara boneka Jepang), dia juga merangkap sebagai penulis kabuki. Nama sesungguhnya dari Chikamatsu Monzaemon adalah Suginomori Nobumori. Dia berasal dari keluarga samurai. Ayahnya, Nobu Tada, adalah abdi dalem keluarga Matsuhira Tadamasa. Chikamatsu lahir di Echizen pada tahun 1653 dan meninggal pada tahun 1724. Setelah ayahnya tidak bekerja lagi, dia pindah ke Kyoto sampai dia berumur sebelas tahun. Untuk membantu ayahnya yang sudah tidak bekerja lagi, dia bekerja pada keluarga bangsawan yang bernama Akiyoshi. Dengan bekerja di keluarga bangsawan, Chikamatsu mendapatkan kesempatan memperdalam kesusastraan klasik. Kesempatan inilah yang membuat Chikamatsu ahli menulis kalimat dalam bentuk yang indah. Dari sinilah dimulainya debut Chikamatsu dalam menulis naskah drama. Karya Chikamatsu pada teater kabuki berjumlah 40 judul dan pada ningyo joruri 114 judul. Riwayat Chikamatsu sebagai penulis drama terdiri dari empat periode.

Periode pertama (1683-1686) dari umur 31 sampai 33 tahun: selama periode tersebut hanya satu lakon yang dihasilkan, yaitu Yotsugi Soga. Periode ini disebut periode latihan.

Periode kedua (1686-1692) dari umur 34 sampai 40 tahun: periode ini adalah periode pembaharuan. Dalam periode ini ia membuat karya drama yang bersifat liris yang sebelumnya bersifat prosa dan syair. Karya pertama dari periode pembaharuan adalah Shussei Kagekiyo. Lakon tersebut merupakan batas antara periode Ko Joruri (Joruri lama) dengan periode Shin Joruri (Joruri baru). Karya yang terkenal pada periode ini antara lain Butsumon Mayasan Keicho, Imagenji Rokujitsuyo, Keisei Awanonaruto, Daimyo Nagusami Soga, Isshin-nin Kabiyakudo, dan Keisei Mibudainenbutsu.

Periode ketiga (1692-1704) dari umur 41 sampai umur 52 tahun: Setelah meninggalnya Tojuro, pemain kabuki, pada tahun 1702 Takemoto Gidayu (dalang ningyo joruri sebagai narator) juga meninggal, bertepatan dengan sedang menanjaknya karya Chikamatsu yang berjudul Sonezaki Shinju. Karya-karyanya yang lain adalah Horikawa Naminotsuzumi, Shinju Kasaneizutsu, Fudokishusseino Takinoboru, Medono Hikkyaku, dan Yugiri Awanonaruto.

Periode keempat (1705-1724) dari umur 53 sampai 72 tahun: Karya Chikamatsu pada akhir hayatnya disebut juga Enjuku (periode yang sudah mencapai titik kematangan). Sampai akhir hayatnya Chikamatsu meneruskan menulis untuk turunan kedua dari Takemoto Gidayu. Pada periode ini dia banyak menghasilkan karya-karya yang bagus, antara lain Kokusen Yakkasen, Nihon Furisode Hajime, Soga Kaikezan, Hakatajoro Namumakura, Heike Nyogoshima, Futago Sumidagawa, Shinju Ten-no Amijima, Onnagoroshi Aburajigoku, Shinjukawashima Kassen, dan Shinju Yoigoshin.

Karya-karya Chikamatsu pada usia mudanya (periode pertama) kebanyakan bersifat legenda dan khayal. Kemudian, jidaimono yang bersifat khayal itu berkembang menjadi cerita manusia sesungguhnya yang mengandung unsur liris yang dalam, yang terdiri dari perpaduan harmonis antara unsur romantis dan realistis. Dalam Sewamono, Chikamatsu memproyeksikan rasa belas kasihnya terhadap tokoh yang menderita. Lukisan konflik antara giri dan ninjo yang dipaparkan Chikamatsu dalam pementasannya terwujud sebagai drama tragedi.

Sebagai satu sistem, kelengkapan ningyo joruri terdiri dari panggung, boneka, lakon, musik, dan dalang.


Baca: Buku Pengantar Kesusastraan Jepang

Comments

Popular posts from this blog

Buku Komposisi Gorys Keraf

Daftar Isi Buku Komposisi Gorys Keraf Kata Pengantar Daftar Isi PENDAHULUAN Bahasa Aspek Bahasa Fungsi Bahasa Tujuan Kemahiran Berbahasa Manfaat Tambahan Kesimpulan BAB I PUNGTUASI Pentingnya Pungtuasi Dasar Pungtuasi Macam-macam Pungtuasi BAB II KALIMAT YANG EFEKTIF Pendahuluan Kesatuan Gagasan Koherensi yang baik dan kompak Penekanan Variasi Paralelisme Penalaran atau Logika BAB III ALINEA : KESATUAN DAN KEPADUAN Pengertian Alinea Macam-macam Alinea Syarat-syarat Pembentukan Alinea Kesatuan Alinea Kepaduan Alinea 5.1 Masalah Kebahasaan 5.2 Perincian dan Urutan Pikiran BAB IV ALINEA : PERKEMBANGAN ALINEA Klimaks dan Anti-Klimaks Sudut Pandangan Perbandingan dan Pertentangan Analogi Contoh Proses Sebab - Akibat Umum - Khusus Klasifikasi Definisi Luar Perkembangan dan Kepaduan antar alinea BAB V TEMA KARANGAN Pengertian Tema Pemilihan Topik Pembatasan Topik Menentukan Maksud Tesis dan Pengungkapan Maksud ...

Sejarah Kesusastraan Jepang

Buku Sejarah Kesusastraan Jepang (Nihon Bungakushi) oleh Isoji Asoo dkk. Daftar Isi Kata Pengantar Kata Sambutan Catatan dari Penyunting Daftar Isi 1.        KESUSASTRAAN ZAMAN JOODAI 1.   Garis Besar Kesusastraan Zaman Joodai 2.   Mitologi, Legenda dan Dongeng 3.   Norito dan Senmyoo 4.   Nyanyian Zaman Joodai 5.   Manyooshuu 6.   Kanshibun 2.        KESUSASTRAAN ZAMAN HEIAN 1.   Garis Besar Kesusastraan Zaman Heian 2.   Kanshibun, Waka dan Kayoo 3.   Monogatari 4.   Catatan Harian dan Essei 5.   Ceritera Sejarah dan Dongeng 3.        KESUSASTRAAN ABAD PERTENGAHAN 1.   Garis Besar Kesusastraan Abad Pertengahan 2.   Pantun Waka dan Pantun Renga 3.   Monogatari, Setsuwa dan Otogizooshi 4.   Essei, Catatan Harian dan Catatan Perjalanan 5.   Hoogo dan Kanbungaku 6. ...

Tanda-tanda Koreksi

6. Tanda-tanda Koreksi Sebelum menyerahkan naskah kepada dosen atau penerbit, setiap naskah harus dibaca kembali untuk mengetahui apakah tidak terdapat kesalahan dalam soal ejaan , tatabahasa atau pengetikan. Untuk tidak membuang waktu, maka cukuplah kalau diadakan koreksi langsung pada bagian-bagian yang salah tersebut. Bila terdapat terlalu banyak salah pengetikan dan sebagainya, maka lebih baik halaman tersebut diketik kembali. Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu, lazim dipergunakan tanda-tanda koreksi tertentu, sehingga antara penulis dan dosen, atau antara penulis dan penerbit, terjalin pengertian yang baik tentang apa yang dimaksud dengan tanda koreksi itu. Tanda-tanda koreksi itu dapat ditempatkan langsung dalam teks atau pada pinggir naskah sejajar dengan baris yang bersangkutan. Tiap tanda perbaikan dalam baris tersebut (kalau ada lebih dari satu perbaikan pada satu baris) harus ditempatkan berturut-turut pada bagian pinggir kertas; bila perlu tiap-tiapnya d...