Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /Å‹/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itÉ™m/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itÉ”m/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...
23. Majalah Shirakaba
Majalah Shirakaba diterbitkan pada tahun 1911. Ketika majalah ini diterbitkan, majalah-majalah lain sudah beredar di pasaran. Misalnya pada tahun 1910, Kinoshita Mokutaro dan Kitahara Hakushu menerbitkan majalah Subaru, bulan Januari dan tahun 1911 Nagai Kafu menerbitkan majalah Mitabungaku, dan pada tahun yang sama bulan September Tanizaki Junichiro dan Watsuji Tetsuro menerbitkan Shinshicho.
Orang-orang yang menerbitkan majalah tersebut semuanya beraliran Shirakabaha dan Tanbiha. Pengarang-pengarang yang bergerak atau aktif pada zaman Taisho banyak menerbitkan majalah-majalah baru. Mereka bercita-cita ingin melanjutkan segala hal yang bersangkutan dengan kebiasaan-kebiasaan lama, namun dalam gerakannya mereka tetap mendukung sepenuhnya segala kebijaksanaan pemerintah pada saat itu. Bentuk tulisan mereka adalah realis, banyak melukiskan bentuk manusia biasa. Di samping dari golongan Shirakabaha, yaitu mengembangkan kebebasan pribadi (diri sendiri), sebaliknya Tanbiha lebih mengagungkan keindahan. Shirakabaha dan Tanbiha biasa juga disebut dengan Hanshizenshugi (anti naturalisme).
Jika melihat anggota-anggota dari Shirakaba, mereka kebanyakan berasal dari golongan masyarakat high society, dari kalangan keluarga bangsawan dan mereka rata-rata bersekolah di Gakushuin (sekolah keluarga-keluarga Kaisar). Dari sini dapat dilihat bahwa mereka adalah golongan masyarakat yang tidak perlu memikirkan kehidupan susah. Dapat disimpulkan bahwa aliran Shirakabaha didukung oleh orang-orang senang, kaya dan keluarga bangsawan. Orang-orang Shirakabaha yang berlatar belakang kehidupan senang dan berasal dari golongan high society itu pertama kali muncul dalam dunia kesusastraan adalah pada zaman Taisho. Mereka membuka tirai kesusastraan zaman Taisho. Walaupun mereka boleh dikatakan adalah pengarang-pengarang yang berasal dari kalangan kaum borjuis, tetapi berbeda jika dibandingkan dengan pengarang borjuis di Eropa. Hal ini dikarenakan keadaan negeri Jepang berbeda dengan Eropa dan Amerika.
Sesungguhnya, para pengarang Shirakabaha berasal dari tiga majalah. Mushano Koji Saneatsu, Shiganaoya, dan Kinoshita Rigen berasal dari majalah Boyo; Satomi Ton, dari majalah Mugi Yanagi Muneyoshi; Kori Torahika berasal dari majalah Momozono. Ketiga majalah ini bergabung dan menamakan perkumpulannya Shirakabaha. Selain pengarang-pengarang tersebut di atas, pengarang lainnya ialah Arishima Takeo.
Karena mereka dibesarkan di dalam lingkungan keluarga high society dan bersekolah di sekolah Kaisar, dengan sendirinya mereka tidak tahu atau tidak dapat merasakan dan menghayati kehidupan masyarakat miskin (rendah). Akibat dari lingkungan mereka maka mereka mempunyai karakter tulisan tersendiri. Dalam menulis karya sastra mereka memakai cara sendiri, tidak meniru orang lain, menulis apa saja sesuai dengan pikiran dan tuntutan hati sendiri. Suatu yang dilihat indah, yakin akan apa yang dilihat sendiri itu indah, tanpa memperdulikan orang lain akan sama menganggap indah. Tidak menghiraukan orang lain akan mengerti atau tidak atas apa yang diungkapkannya. Kekhasan dari para pengarang Shirakabaha adalah mereka boleh bebas menulis apa yang mereka inginkan. Umur mereka sekitar 26 atau 27 tahun.
Majalah Shirakaba termasuk salah satu majalah yang berumur panjang sampai saat itu. Biasanya dalam jangka waktu satu atau dua tahun majalah-majalah tersebut sudah tamat (selesai). Berdiri pada tahun 1911 dan berakhir pada tahun 1924, kira-kira 160 buah majalah sudah diterbitkan setiap minggu selama 14 tahun. Dalam periode penerbitannya, majalah Shirakaba dibagi menjadi tiga periode. Periode awal tahun 1911 - tahun 1916; periode tengah tahun 1916 - tahun 1918; periode akhir tahun 1918 - tahun 1924. Pada periode awal majalah Shirakaba banyak menghasilkan karya-karya yang bermutu, antara lain, karya Mushano Koji Saneatsu yang menulis Sekken Shirazu, Shinaganaoya yang menulis Rumen, dan lain-lain. Pada periode tengah majalah Shirakaba semakin populer dan berkembang. Pada periode ini paham humanisme yang berasal dari Eropa diperkenalkan ke seluruh Jepang. Mushano Koji mengubah paham egois ke paham humanisme dalam karya-karyanya. Para periode akhir, akibat dampak ekonomi Jepang yang memburuk pada saat itu berpengaruh besar bagi perkembangan majalah Shirakaba.
ANYAKORO
"Anyakoro" adalah satu cuplikan dari karya Shiganaoya. Tokoh utama dari cerita ini adalah Tokito Kensaku. Sejak kecil, Tokito Kensaku tidak pernah mendapat perhatian dan kasih sayang dari ayahnya, dia hanya disayang oleh ibunya. Ketika ibunya meninggal, Kensaku diambil oleh kakek dari bapaknya dan kemudian diserahkan kepada istri muda kakeknya yang bernama Oei. Setelah kakeknya meninggal, Kensaku tidak kembali kepada ayahnya sampai dia dewasa.Kensaku yang bercita-cita menjadi pengarang, hidup dalam keadaan tidak normal karena ditolak ketika melamar adik sepupunya. Dia kecewa dan menghabiskan waktu dengan bermain-main saja, membenci dirinya sendiri, dan selalu gagal dalam bergaul.
Kensaku mencoba kehidupan baru karena ternyata dia suka kepada Oei, dan pergi ke Hiroshima. Di sana dia tidak tahan menghadapi kesepian. Oleh karena itu, dia menulis surat kepada kakaknya untuk bermusyararah sehubungan dengan keinginannya menikahi Oei. Balasan surat kakaknya tidak menggembirakan hatinya bahkan memojokkan diri Kensaku sendiri. Berturut-turut Kensaku menderita batin. Kakaknya kemudian membuka rahasia kelahiran Kensaku bahwa sebenarnya pada waktu ayah Kensaku bertugas ke luar negeri, Kensaku lahir akibat kejadian kakek dan ibunya.
Mendengar cerita kakaknya, Kensaku pindah ke Kyoto. Pada suatu hari dia berkenalan dengan Naoka, kemudian menikah dan hidup bahagia. Namun, Kensaku mengalami kekecewaan lagi, seolah-olah dirinya dipermainkan oleh nasib yaitu ketika anak pertamanya lahir dan tiba-tiba meninggal. Selain itu, istrinya bermain gelap dengan kakak sepupunya yang bernama Kaname. Ini terjadi ketika Kensaku menjemput Oei ke Korea. Dua kali Kensaku mengalami kekecewaan. Walaupun demikian, Kensaku tidak menyalahkan istrinya, dia mencoba memaafkannya. Namun, masalahnya tidak berhasil diatasi karena ternyata jiwanya tidak bisa menerima. Akhirnya, dia pergi ke Gunung Daisen di Hoki (sekarang Propinsi Tottori).
Dalam perjalanan mendaki gunung, Kensaku jatuh sakit. Dia kemudian kembali lagi dan turun dari gunung dengan keadaan koma. Mendengar kabar suaminya koma, Naoka datang menengok Kensaku. Ketika dia melihat keadaan suaminya, Naoka bertekad akan mengikuti suaminya sampai ke mana pun.
Baca: Buku Pengantar Kesusastraan Jepang
Comments
Post a Comment