Skip to main content

Jenis Fonem

Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /Å‹/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itÉ™m/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itÉ”m/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...

Karya Sastra Aliran Shikankakuha

Karya Sastra Aliran Shikankakuha


c. Karya Sastra Aliran Shikankakuha


Yokomitsu Riichi, tokoh yang dianggap sebagai pelopor aliran Shinkankakuha, pada majalah perdana Bungei Jidai menulis karya berjudul "Atama Narabi ni Hara" yang kalimat pembukaannya adalah sebagai berikut.

Mappiru de aru. Tokubetsu kyuko ressha wa man in no mama zensokuryoku de kakete ita. Ensen no koeki wa ishi no yoni mokusatsu sareta.
Persis tengah hari, kereta ekspres dengan penumpang berdesak-desak berlari dengan kecepatan penuh. Stasiun kecil di dekat rel tak diacuhkannya seperti batu saja.

Karya sastra aliran Shinkankakuha ternyata menarik perhatian pembaca dengan adanya ekspresi menyimpang yang tidak lumrah dalam kebiasaan kaidah bahasa Jepang, seperti kutipan di atas. Gejala seperti ini menunjukkan adanya usaha anggota aliran ini untuk menciptakan gaya penulisan gaya kesusastraan sebelumnya, khususnya kesusastraan zaman Taisho yang mereka anggap monoton dan sudah ketinggalan zaman. Tidak dapat disangkal lagi bahwa motor penggerak aliran ini adalah Yokomitsu Riichi dengan karya-karyanya Hae (1923), Nichirin (1923), Haru wa Basha ni Notte, dan sebagainya.

Hae adalah sebuah cerita pendek yang terdiri dari sepuluh bab yang pendek-pendek. Bab pertama menggambarkan suasana lengang suatu daerah penginapan yang mempunyai terminal kereta kuda pada waktu tengah hari. Suasana sepi dan hampa itu dilukiskan melalui keadaan seekor lalat yang terjatuh ke atas jerami setelah berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari sarang laba-laba yang berada di pojok suatu bangunan yang remang-remang. Lalat kemudian merayap ke punggung kuda yang terikat di situ. Pada bab kedua, cerita beralih dari kuda yang dihinggapi lalat ke kusir yang sedang main catur menunggu waktu kereta berangkat. Bab tiga, keadaan kusir dengan santainya main catur dilukiskan kontras dengan seorang ibu petani yang sangat bersedih dan merasa kuatir akan keadaan anaknya yang sakit keras di kota dan ingin cepat-cepat berangkat. Dalam bab keempat, dimunculkan sepasang muda-mudi yang kawin lari. Si laki-laki berusaha menenangkan pasangannya yang kelihatan gelisah dan cemas, sedangkan bab kelima melukiskan seorang ibu lain dengan anaknya yang masih kecil dalam suasana ceria menunggu kereta. Bab berikutnya secara umum menggambarkan keadaan sehari-hari kusir yang penuh kesederhanaan. Pada bab sembilan kuda dipecut dan kereta pun berangkat. Lalat yang dimunculkan pada bab pertama kembali mendapat sorotan. Dengan berjalannya kuda yang dipecut, lalat terbang dari punggung kuda kemudian hinggap di atap kereta yang berjalan bergoyang-goyang. Pada bagian terakhir merupakan klimaks cerpen ini. Mula-mula digambarkan kejadian di dalam kereta di mana seorang tua mulai bicara, disusul dengan ocehan ceria seorang anak kecil, bunyi cambuk kusir, dan perasaan gelisah ibu petani yang sebentar-sebentar melihat jam di lengan tuan yang bicara tadi. Akan tetapi, apa hendak dikata, rupanya sang kusir mulai mengantuk sehingga ketika kereta berada di jalan mendaki di pinggir jurang, sang kusir tidak menyadari bahwa kudanya tidak berada pada posisi jalan yang aman. Terjatuhlah kuda dan kereta yang ditariknya bersama semua penumpangnya ke dalam jurang. Hanya seekor lalat saja yang berhasil menyelamatkan diri terbang dari atap kereta ke angkasa bebas.

Melihat akhir cerita ini, tentu Yokomitsu Riichi bukanlah mempermasalahkan mengantuknya sang kusir, tetapi dia ingin memberi tekanan pada kekejaman bencana yang merenggut berbagai nyawa dan dilukiskannya sangat kontras dengan kebebasan yang dimiliki lalat yang terbang ke angkasa. Dengan kata lain, dia ingin mengatakan bahwa kehidupan manusia yang penuh keterbatasan itu seolah-olah tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kebesaran dan keleluasaan alam.

Mengenai kankaku (sensual) yang merupakan ciri khas aliran Shinkankakuha, Yokomitsu Riichi mengantarkan melalui tulisannya berjudul "Kankaku Katsudo" dalam Bungei Jidai terbitan Februari 1925 sebagai berikut.
Jibun no iu kankaku to iu kannen, sunawachi Shinkankakuha no kankakuteki hyocho to wa, hitokoto de iu to shizen no gaiso o hakudatsushi, mono jitai ni odorikomu shukan no chokkanteki shokuhatsubutsu o iu.
Pengertian tentang sensual, khususnya ekspresi sensual aliran Shinkankakuha adalah isi yang diperoleh berdasarkan sentuhan langsung secara subjektif terhadap benda itu sendiri, setelah menanggalkan pembungkus alamiah luarnya.
Shinkankakuteki hyocho wa sukunakutomo gosei ni yorite naiteki chokkan no shochokasareta mono denakerebe naramu.
Ekspresi sensual baru haruslah merupakan simbolisme intuisi berdasarkan pemahaman yang mendalam.
Kankaku wa yoyaku sureba seishin no bakuhatsushita keishiki de aru.
Sensual bila disimpulkan adalah suatu bentuk ekspresi ledakan jiwa.

Adapu Kawabata Yasunari dalam Bungei Jidai terbitan Maret 1926 dengan judul "Hyogen ni Tsuite" menulis sebagai berikut.
Kotoba o shinrai shisugite iru hito kara atarashii hyogen wa umarenai.
Tak akan lahir ekspresi baru dari orang yang terlalu percaya dan bergantung pada kata-kata saja.
Genjitsu no katachi o, genjitsu no genkai o, an i ni shinrai shisugite iru hito kara fukai geijutsu wa umarenai.
Tidak akan lahir seni yang tinggi dari orang yang terlalu mudah percaya pada bentuk maupun keterbatasan realita.
Kankakushugi to wa tan ni shukantekina gensho o sawayaka ni byosha ni todomaru mono dewa nai no de aru.
Sensualisme tidaklah hanya berhenti pada upaya melukiskan dengan segar fenomena subjektif.

Karya sastra Kawabata Yasunari antara lain adalah Ume no Oshibe (1927) dan Laut Biru Laut Hitam (1925). Pada masa itu dia menulis juga novel yang merupakan salah satu novel terbaiknya, yakni Izu no Odoriko (1926), namun ada anggapan bahwa novel ini tidak termasuk dalam karya sastra aliran Shinkankakuha. Anggota lain aliran ini, seperti Nakagawa Yaichi, menulis Shishusereretaru Yasai (1924) dan Kataoka Teppei menghasilkan karya berjudul Tsuna no Ue no Shojo (1926).

Perbedaan yang menonjol antara gaya penulisan Yokomitsu Riichi dan Kawabata Yasunari, seorang tokoh yang paling dominan dalam aliran ini, terletak pada tokoh yang dimunculkan dalam karya-karyanya. Yokomitsu Riichi mencoba menampilkan ekspresi baru dengan memakai tokoh orang ketiga, sedangkan Kawabata Yasunari umumnya menulis dengan tokoh orang pertama. Dari segi ini, bila sensual dianggap berkaitan erat dengan subjek, gaya penulisan Kawabata Yasunari lebih sensual dibandingkan dengan Yokomitsu Riichi. Walaupun demikian, ulasan yang ditulisnya, yang menyangkut aliran Shinkankakuha secara umum, Yokomitsu Riichi dianggap sebagai tokoh yang merupakan motor penggerak aliran ini.


Baca: Buku Pengantar Kesusastraan Jepang


Comments

Popular posts from this blog

Buku Komposisi Gorys Keraf

Daftar Isi Buku Komposisi Gorys Keraf Kata Pengantar Daftar Isi PENDAHULUAN Bahasa Aspek Bahasa Fungsi Bahasa Tujuan Kemahiran Berbahasa Manfaat Tambahan Kesimpulan BAB I PUNGTUASI Pentingnya Pungtuasi Dasar Pungtuasi Macam-macam Pungtuasi BAB II KALIMAT YANG EFEKTIF Pendahuluan Kesatuan Gagasan Koherensi yang baik dan kompak Penekanan Variasi Paralelisme Penalaran atau Logika BAB III ALINEA : KESATUAN DAN KEPADUAN Pengertian Alinea Macam-macam Alinea Syarat-syarat Pembentukan Alinea Kesatuan Alinea Kepaduan Alinea 5.1 Masalah Kebahasaan 5.2 Perincian dan Urutan Pikiran BAB IV ALINEA : PERKEMBANGAN ALINEA Klimaks dan Anti-Klimaks Sudut Pandangan Perbandingan dan Pertentangan Analogi Contoh Proses Sebab - Akibat Umum - Khusus Klasifikasi Definisi Luar Perkembangan dan Kepaduan antar alinea BAB V TEMA KARANGAN Pengertian Tema Pemilihan Topik Pembatasan Topik Menentukan Maksud Tesis dan Pengungkapan Maksud ...

Sejarah Kesusastraan Jepang

Buku Sejarah Kesusastraan Jepang (Nihon Bungakushi) oleh Isoji Asoo dkk. Daftar Isi Kata Pengantar Kata Sambutan Catatan dari Penyunting Daftar Isi 1.        KESUSASTRAAN ZAMAN JOODAI 1.   Garis Besar Kesusastraan Zaman Joodai 2.   Mitologi, Legenda dan Dongeng 3.   Norito dan Senmyoo 4.   Nyanyian Zaman Joodai 5.   Manyooshuu 6.   Kanshibun 2.        KESUSASTRAAN ZAMAN HEIAN 1.   Garis Besar Kesusastraan Zaman Heian 2.   Kanshibun, Waka dan Kayoo 3.   Monogatari 4.   Catatan Harian dan Essei 5.   Ceritera Sejarah dan Dongeng 3.        KESUSASTRAAN ABAD PERTENGAHAN 1.   Garis Besar Kesusastraan Abad Pertengahan 2.   Pantun Waka dan Pantun Renga 3.   Monogatari, Setsuwa dan Otogizooshi 4.   Essei, Catatan Harian dan Catatan Perjalanan 5.   Hoogo dan Kanbungaku 6. ...

Tanda-tanda Koreksi

6. Tanda-tanda Koreksi Sebelum menyerahkan naskah kepada dosen atau penerbit, setiap naskah harus dibaca kembali untuk mengetahui apakah tidak terdapat kesalahan dalam soal ejaan , tatabahasa atau pengetikan. Untuk tidak membuang waktu, maka cukuplah kalau diadakan koreksi langsung pada bagian-bagian yang salah tersebut. Bila terdapat terlalu banyak salah pengetikan dan sebagainya, maka lebih baik halaman tersebut diketik kembali. Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu, lazim dipergunakan tanda-tanda koreksi tertentu, sehingga antara penulis dan dosen, atau antara penulis dan penerbit, terjalin pengertian yang baik tentang apa yang dimaksud dengan tanda koreksi itu. Tanda-tanda koreksi itu dapat ditempatkan langsung dalam teks atau pada pinggir naskah sejajar dengan baris yang bersangkutan. Tiap tanda perbaikan dalam baris tersebut (kalau ada lebih dari satu perbaikan pada satu baris) harus ditempatkan berturut-turut pada bagian pinggir kertas; bila perlu tiap-tiapnya d...