Skip to main content

Jenis Fonem

Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /Å‹/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itÉ™m/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itÉ”m/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...

Paradigma Baru yang Muncul: Dari Atas ke Bawah

Paradigma Baru yang Muncul: Dari Atas ke Bawah


Menurut cerita berikut dari Taurat (Kejadian 17:24 dan 18:1-14), bahkan hingga usia 99 tahun Abraham terus mencoba memegang kendali penuh pada semua bidang. Tiga hari setelah dia melaksanakan sunat yang penuh rasa sakit atas perintah Tuhan, tiga malaikat menyerupakan diri sebagai manusia, mendatangi tenda Abraham . Dia, Sarah dan anaknya yang kecil Ismail, memanggang roti dan memasak makanan untuk mereka. Saat itu dia cukup kaya untuk mempekerjakan pembantu dan pelayan makan. Namun orang tua 99 tahun ini dan istrinya yang usianya kurang lebih sama, terus menjalankan aktivitas itu sendiri. Tidak heran kalau agama baru yang dibangunnya tidak berkembang lebih dari seratus orang pengikut yang setia.

Tetapi para malaikat yang berkunjung di rumahnya adalah untuk memberitahukan akan kelahiran "pegawai" barunya—yaitu anaknya Ishak. Abraham sekarang akan memiliki anak yang akan cocok diberi limpahan tugas dan yang bisa melaksanakannya dengan cara yang berbeda. Ketika Ishak tumbuh dewasa dan mengamati gaya manajemen ayahnya, dia merumuskan apa yang perlu dilakukan untuk membesarkan usaha ini. Tidak seperti ayahnya yang menggunakan gaya manajemen, seperti disebut oleh para Kabbalis sebagai "milmatah lemalah" (dari bawah ke atas), Ishak beroperasi dengan gaya "milmalah lematah" (dari atas ke bawah). Dia melakukan survei atas masalahnya, menyusun rencana solusi, dan membiarkan orang lain yang melaksanakannya—itulah pendekatan hands-off-nya. Satu contoh dari hal ini adalah saat tiba waktunya Ishak menikah, dia mendelegasikan pencarian pasangan ke seorang pelayan. Dia mempercayai pelayan itu untuk mengambil keputusan yang bijak dalam mencari istri yang cocok.

Ilustrasi lain tentang hal ini dinyatakan dalam Taurat (Kejadian 26:18) bahwa Ishak akan menggali sumur. Penafsir Taurat lalu menjuluki Ishak sebagai Penggali-Sumur. Sumur hanyalah sebuah lubang di tanah yang menyebabkan air tanah terdorong keluar karena tekanannya sendiri. Begitu sumber air ditemukan, dia akan menggali sebuah sumur yang akan memberikan pasokan air secara alami untuk tahun-tahun yang akan datang. Sumur tidak membutuhkan perawatan sejak saat selesainya digali. Hal ini penting karena akan memberikan kita wawasan tentang model bisnis Ishak. Dalam menggali sumur itu, Ishak seperti memulai sebuah usaha bisnis, memasang orang-orang yang bagus dalam bidangnya, dan kemudian membiarkan mereka berkembang dengan sendirinya tanpa perlu banyak masukan darinya.

Mungkin contoh terpopuler dalam pendekatan manajemen yang dilakukan oleh Ishak, milmalah lematah, adalah kisah "penipu" termasyhur yang ada di Taurat (Kejadian 27:6-29), di mana anak laki-laki Ishak yaitu Yakub sepertinya sedang menipu ayahnya agar memberkahinya dengan hak kesulungan yang seharusnya dimaksudkan bagi saudara kembarnya, yaitu Esau.

Dalam hukum adat pada saat itu, hak kesulungan mestinya adalah milik Esau, karena dia yang keluar pertama kali dari kandungan. Namun Esau ingin menukar hak sulungnya dengan semangkuk miju-miju. Juga bahwa Esau tidak menunjukkan kelebihan seperti yang dimiliki Yakub. Kisah Taurat ini jelas-jelas mengunggulkan Yakub sebagai orang yang mendapatkan hak kesulungan.

Ishak tidak menyadari hal ini. Dia telah memutuskan berdasarkan kelahiran mereka bahwa Esau yang akan menjadi pewaris utamanya, dan itulah keputusannya. Dia tidak menyadari tentang kemampuan lebih Yakub dalam kepemimpinan dan tentang kekurangan di sifat-sifat Esau.

Ibu Yakub, Ribka, punya suatu rencana (Kejadian 27:6-13). Dia menyuruh Yakub datang ke tenda Ishak mengenakan kulit kambing dan meminta restu dari ayahnya. Saat Ishak, yang penglihatannya sudah berkurang saat itu, beranjak untuk menyentuh anak laki-lakinya itu, dia meraba bulu-bulu di tangan anaknya dan mengira bahwa dia Esau, yang memang berbulu lebat. Hal itu meyakinkan Ishak untuk memberi Yakub hak kesulungan yang didambakan.

Dalam ajaran Taurat, Yakub melakukan apa yang perlu demi mendapatkan yang terbaik untuk kepentingan seluruh suku, yang di masa datang akan berkembang menjadi bangsa Yahudi. Bukannya dipandang sebagai penipu yang mengambil sesuatu yang bukan miliknya, Yakub dianggap oleh adat sebagai orang ahli siasat ulung yang akan mencegah hal yang bisa menjadi bencana bagi keturunannya.

Di sisi lain, meskipun Ishak adalah ahli pendelegasian tugas dan memprakarsai perusahaan, gaya manajemennya yang terlalu melepas pekerjaan ke orang lain (hands-off) memiliki beberapa kekurangan. Sebagai konsekuensi gaya kepemimpinan yang hands-off, jika bukan untuk siasat cepat dari istri dan anaknya yang lebih muda, dia mungkin akan melimpahkan pilihan berkat kesulungan ke Esau yang bodoh.


Baca: Buku Sukses Bisnis Cara Yahudi

Comments

Popular posts from this blog

Buku Komposisi Gorys Keraf

Daftar Isi Buku Komposisi Gorys Keraf Kata Pengantar Daftar Isi PENDAHULUAN Bahasa Aspek Bahasa Fungsi Bahasa Tujuan Kemahiran Berbahasa Manfaat Tambahan Kesimpulan BAB I PUNGTUASI Pentingnya Pungtuasi Dasar Pungtuasi Macam-macam Pungtuasi BAB II KALIMAT YANG EFEKTIF Pendahuluan Kesatuan Gagasan Koherensi yang baik dan kompak Penekanan Variasi Paralelisme Penalaran atau Logika BAB III ALINEA : KESATUAN DAN KEPADUAN Pengertian Alinea Macam-macam Alinea Syarat-syarat Pembentukan Alinea Kesatuan Alinea Kepaduan Alinea 5.1 Masalah Kebahasaan 5.2 Perincian dan Urutan Pikiran BAB IV ALINEA : PERKEMBANGAN ALINEA Klimaks dan Anti-Klimaks Sudut Pandangan Perbandingan dan Pertentangan Analogi Contoh Proses Sebab - Akibat Umum - Khusus Klasifikasi Definisi Luar Perkembangan dan Kepaduan antar alinea BAB V TEMA KARANGAN Pengertian Tema Pemilihan Topik Pembatasan Topik Menentukan Maksud Tesis dan Pengungkapan Maksud ...

Sejarah Kesusastraan Jepang

Buku Sejarah Kesusastraan Jepang (Nihon Bungakushi) oleh Isoji Asoo dkk. Daftar Isi Kata Pengantar Kata Sambutan Catatan dari Penyunting Daftar Isi 1.        KESUSASTRAAN ZAMAN JOODAI 1.   Garis Besar Kesusastraan Zaman Joodai 2.   Mitologi, Legenda dan Dongeng 3.   Norito dan Senmyoo 4.   Nyanyian Zaman Joodai 5.   Manyooshuu 6.   Kanshibun 2.        KESUSASTRAAN ZAMAN HEIAN 1.   Garis Besar Kesusastraan Zaman Heian 2.   Kanshibun, Waka dan Kayoo 3.   Monogatari 4.   Catatan Harian dan Essei 5.   Ceritera Sejarah dan Dongeng 3.        KESUSASTRAAN ABAD PERTENGAHAN 1.   Garis Besar Kesusastraan Abad Pertengahan 2.   Pantun Waka dan Pantun Renga 3.   Monogatari, Setsuwa dan Otogizooshi 4.   Essei, Catatan Harian dan Catatan Perjalanan 5.   Hoogo dan Kanbungaku 6. ...

Tanda-tanda Koreksi

6. Tanda-tanda Koreksi Sebelum menyerahkan naskah kepada dosen atau penerbit, setiap naskah harus dibaca kembali untuk mengetahui apakah tidak terdapat kesalahan dalam soal ejaan , tatabahasa atau pengetikan. Untuk tidak membuang waktu, maka cukuplah kalau diadakan koreksi langsung pada bagian-bagian yang salah tersebut. Bila terdapat terlalu banyak salah pengetikan dan sebagainya, maka lebih baik halaman tersebut diketik kembali. Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu, lazim dipergunakan tanda-tanda koreksi tertentu, sehingga antara penulis dan dosen, atau antara penulis dan penerbit, terjalin pengertian yang baik tentang apa yang dimaksud dengan tanda koreksi itu. Tanda-tanda koreksi itu dapat ditempatkan langsung dalam teks atau pada pinggir naskah sejajar dengan baris yang bersangkutan. Tiap tanda perbaikan dalam baris tersebut (kalau ada lebih dari satu perbaikan pada satu baris) harus ditempatkan berturut-turut pada bagian pinggir kertas; bila perlu tiap-tiapnya d...