Skip to main content

Jenis Fonem

Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /Å‹/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itÉ™m/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itÉ”m/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...

Panggung

Panggung


b. Panggung


Untuk pementasan boneka diperlukan panggung. Panggung tersebut merupakan tempat pertunjukan boneka, tempat pemain shamisen dan dalang. Luas panggung ningyo joruri kurang lebih 90 meter persegi, dengan panjang panggung 6 ken (kurang lebih 10 meter) dan lebarnya 5 ken (kurang lebih 9 meter). Tempat pertunjukan boneka terdiri dari ruang tengah dan 3 buah tesuri (langkah). Tesuri berguna untuk memperlihatkan boneka ketika ditampilkan. Boneka seolah-olah terlihat berada di atas tanah, tikar, tempat tidur, atau di dalam ruangan tertentu. Oleh karena itu, fungsi tesuri penting sekali dalam pertunjukan ini.

Tesuri terdiri dari shigesan (langkah yang terdapat di bagian pertunjukan paling muka) dengan tinggi 45 sentimeter dipergunakan untuk menggambarkan keadaan di depan rumah. Langkah kedua adalah ninote dengan tinggi 48 sentimeter, dipergunakan untuk menampilkan boneka. Di belakang ninote terdapat bagian yang agak menurun yang disebut funazoko (arti sesungguhnya lantai kapal). Funazoko yang tingginya kurang lebih 36 sentimeter merupakan tempat berdiri pemain boneka ketika pementasan berlangsung. Dari bagian terbawah, funazoko sampai ke atas, ninote, tingginya kurang lebih 84 sentimeter. Misalnya omozukai (pemain boneka/pembantu dalang) berdiri di atas funazoko maka pemain boneka tersebut akan terlihat separuh badan. Lebar funazoko kurang lebih 2 meter. Pada bagian belakang funazoko terdapat langkan honde dengan tinggi 84 sentimeter dipergunakan untuk menggambarkan keadaan di dalam rumah, dan dari funazoko sampai ke atas honde kurang lebih 90 sentimeter. Pada bagian kiri dan kanan funazoko terdapat agemaku. Agemaku adalah tempat keluar masuknya boneka. Pada bagian depan kanan penonton terdapat tempat yang disebut degatariyuka, yaitu yang dapat berputar, disebut yukamawari. Lantai berputar ini ialah untuk memudahkan para dalang bertukar tempat. Di atas degatariyuka terdapat tirai. Pada zaman dahulu dalang bercerita di balik tirai ini. Tokoh (boneka) keluar dari agemaku yang berada di sebelah kanan. Di dalam agemaku terdapat beberapa macam alat musik sebagai pelengkap musik shamisen.

Panggung Joruri

Baca: Buku Pengantar Kesusastraan Jepang

Comments

Popular posts from this blog

Buku Komposisi Gorys Keraf

Daftar Isi Buku Komposisi Gorys Keraf Kata Pengantar Daftar Isi PENDAHULUAN Bahasa Aspek Bahasa Fungsi Bahasa Tujuan Kemahiran Berbahasa Manfaat Tambahan Kesimpulan BAB I PUNGTUASI Pentingnya Pungtuasi Dasar Pungtuasi Macam-macam Pungtuasi BAB II KALIMAT YANG EFEKTIF Pendahuluan Kesatuan Gagasan Koherensi yang baik dan kompak Penekanan Variasi Paralelisme Penalaran atau Logika BAB III ALINEA : KESATUAN DAN KEPADUAN Pengertian Alinea Macam-macam Alinea Syarat-syarat Pembentukan Alinea Kesatuan Alinea Kepaduan Alinea 5.1 Masalah Kebahasaan 5.2 Perincian dan Urutan Pikiran BAB IV ALINEA : PERKEMBANGAN ALINEA Klimaks dan Anti-Klimaks Sudut Pandangan Perbandingan dan Pertentangan Analogi Contoh Proses Sebab - Akibat Umum - Khusus Klasifikasi Definisi Luar Perkembangan dan Kepaduan antar alinea BAB V TEMA KARANGAN Pengertian Tema Pemilihan Topik Pembatasan Topik Menentukan Maksud Tesis dan Pengungkapan Maksud ...

Sejarah Kesusastraan Jepang

Buku Sejarah Kesusastraan Jepang (Nihon Bungakushi) oleh Isoji Asoo dkk. Daftar Isi Kata Pengantar Kata Sambutan Catatan dari Penyunting Daftar Isi 1.        KESUSASTRAAN ZAMAN JOODAI 1.   Garis Besar Kesusastraan Zaman Joodai 2.   Mitologi, Legenda dan Dongeng 3.   Norito dan Senmyoo 4.   Nyanyian Zaman Joodai 5.   Manyooshuu 6.   Kanshibun 2.        KESUSASTRAAN ZAMAN HEIAN 1.   Garis Besar Kesusastraan Zaman Heian 2.   Kanshibun, Waka dan Kayoo 3.   Monogatari 4.   Catatan Harian dan Essei 5.   Ceritera Sejarah dan Dongeng 3.        KESUSASTRAAN ABAD PERTENGAHAN 1.   Garis Besar Kesusastraan Abad Pertengahan 2.   Pantun Waka dan Pantun Renga 3.   Monogatari, Setsuwa dan Otogizooshi 4.   Essei, Catatan Harian dan Catatan Perjalanan 5.   Hoogo dan Kanbungaku 6. ...

Tanda-tanda Koreksi

6. Tanda-tanda Koreksi Sebelum menyerahkan naskah kepada dosen atau penerbit, setiap naskah harus dibaca kembali untuk mengetahui apakah tidak terdapat kesalahan dalam soal ejaan , tatabahasa atau pengetikan. Untuk tidak membuang waktu, maka cukuplah kalau diadakan koreksi langsung pada bagian-bagian yang salah tersebut. Bila terdapat terlalu banyak salah pengetikan dan sebagainya, maka lebih baik halaman tersebut diketik kembali. Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu, lazim dipergunakan tanda-tanda koreksi tertentu, sehingga antara penulis dan dosen, atau antara penulis dan penerbit, terjalin pengertian yang baik tentang apa yang dimaksud dengan tanda koreksi itu. Tanda-tanda koreksi itu dapat ditempatkan langsung dalam teks atau pada pinggir naskah sejajar dengan baris yang bersangkutan. Tiap tanda perbaikan dalam baris tersebut (kalau ada lebih dari satu perbaikan pada satu baris) harus ditempatkan berturut-turut pada bagian pinggir kertas; bila perlu tiap-tiapnya d...