Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /Å‹/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itÉ™m/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itÉ”m/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...
Howard Jones, seorang kaya raya yang dibesarkan di Bronx menjadi contoh saat ini dari seseorang yang mengikuti jejak Yakub. Jonas membangun perusahaan bernama IDT (International Discount Telecommunication) Corp. di tahun 1992, setelah belajar tentang teknologi komunikasi baru yang disebut call-back internasional. Sistem ini membantu orang dari luar Amerika (di mana saat itu biaya telepon ke Amerika dari luar negeri sekitar $5 per menit) seakan-akan dari lokal Amerika sendiri (biaya menjadi kurang dari $1 per menit).
Perusahaannya berkembang pesat menjadi pusat telekomuniksai yang berpenghasilan puluhan juta dolar setahun. Tapi ini berlangsung hingga AT&T menuntutnya di pengadilan, mengklaim bahwa teknologi tersebut ilegal. Jonas mengurusnya dengan baik. Sistem call-back mengambil keuntungan dari terobosan dalam pakta telekomunikasi internasional, tapi murni legal—dan dia memenangkan perkara tersebut.
Di akhir 1990-an, Jonas berinvestasi di Voice-Over-Internet-Protocol dengan mendanai perusahaan bernama Net2Phone. Di tahun 2001, di puncak klimaks booming bisnis dot-com, dia menjual perusahaan tersebut ke AT&T senilai $1,1 miliar. Setahun kemudian, di tengah debu keruntuhan pasar telekomunikasi, Jonas membeli kembali perusahaan itu hanya seharga $100 juta. Dia kemudian menghabiskan $1 miliar sisa uangnya untuk membeli peralatan yang dijual dari perusahaan penyedia telekomunikasi yang bangkrut dengan harga obral. Saat ini, IDT menjadi satu dari seribu perusahaan terbesar di dunia—tidak buruk mengingat perusahaan ini baru berdiri 20 tahun yang lalu.
Mungkin Jonas adalah satu dari manusia paling beruntung di dunia. Mungkin dia dengan begitu saja membeli di saat harga paling murah dan menjual di saat harganya paling tinggi karena memang nasib baik. Tetapi kenyataan bahwa hal tersebut dia lakukan berkali-kali dalam kariernya (dan masih akan banyak lagi di masa depan—dia saat ini berusia lima puluh tahun) mengarah ke pemahaman yang mendalam, seperti Yakub di bidangnya, teknologinya dan pengerjaan sehari-hari. Dia membangun IDT dan menjadi satu-satunya pegawai di tahun pertamanya. Dan seperti Yakub, dia selalu melibatkan dirinya secara mendalam di kegiatan harian dalam perusahaannya, sementara juga terus mengawasi lingkungan bisnis agar bisa membuat keputusan-keputusan yang strategis. Dan Jonas juga mengerti teknologi-teknologi baru dan efeknya bagi persaingan—menunjukkan keterlibatan yang penuh dalam semua aspek operasional perusahaannya. Dengan kata lain, seperti Yakub, dia mempraktekkan gabungan antara strategi top-down dan bottom-up, juga antara strategi hands-on dan hands-off.
Baca: Buku Sukses Bisnis Cara Yahudi
Comments
Post a Comment