Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /Å‹/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itÉ™m/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itÉ”m/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...
c. Boneka
Kelengkapan boneka terdiri dari kepala boneka, badan boneka, tangan boneka, dan cara menggerakkan boneka.
(1) Kepala Boneka
Kepala boneka terdiri dari dua macam bentuk, yaitu kepala istimewa dan kepala dasar. Kepala istimewa dipakai oleh satu pelaku saja, sedangkan kepala dasar dipakai oleh banyak pelaku. Teater ningyo joruri (bunraku) dewasa ini mempunyai kepala dasar sebanyak 40 jenis dan kepala istimewa berjumlah kurang lebih 40 buah. Kualitas kepala boneka ditentukan oleh jahat dan baik, jenis kelamin, dan umur.
Kepala boneka yang berwatak baik dibuat sedemikian rupa indahnya dan diberi warna putih sehingga menunjukkan kemuliaan hati. Untuk kepala boneka berwatak jahat digambarkan dengan karakter yang kasar dan bengis dan diberi warna gading. Pemberian warna diadakan untuk memudahkan dalam membedakan kepala jahat dan kepala baik. Perbedaan jenis kelamin dapat dilihat dari tampang keseluruhan, sedangkan untuk membedakan umur dapat dilihat dari rupa. Seperti halnya manusia maka bentuk kepala boneka setengah umur menggambarkan rupa yang tua dan keriput. Kepala boneka remaja menggambarkan rupa yang penuh ketampanan atau kecantikan. Berikut ini akan kami sajikan gambaran tentang keistimewaan karakter kepala boneka yang terkenal dalam rupa setengah umur dan rupa remaja.
(a). Kepala Setengah Umur
Kepala bunshichi (baik, laki-laki): bersikap jantan, menggambarkan wajah keras, di samping itu terselip rasa kasih sayang.
Kepala kintoki (jahat, laki-laki): bersikap jantan dan sederhana, diperankan pada pelaku yang galak, pada mukanya terdapat daging tebal yang berlekuk-lekuk.
Kepala keisei (baik, wanita): wajah boneka ini bulat dan merangsang, kepalanya lebih besar dari kepala boneka biasa, boneka ini selalu ditampilkan dengan pakaian yang indah-indah (mewah) dan kelihatan lebih cantik dari kepala boneka lainnya.
Kepala yashio (jahat, wanita): menggambarkan wajah tamak dan menakutkan, diperankan pada pelaku wanita bangsawan jahat.
Di samping itu, terdapat kepala boneka remaja. Bentuk kepala boneka remaja sama cantiknya dengan kepala keisei.
(b) Kepala Remaja
Kepala musume (baik, wanita): diperankan sebagai anak rakyat biasa.
Kepala sasaya (baik, wanita): wajah kepala boneka sasaya lebih lonjong dari kepala musume, diperankan sebagai wanita bangsawan, dan menunjukkan wajah berbudi luhur dan agung.
Kepala gabu (jahat, wanita): mula-mula menampakkan wajah wanita cantik, akan tetapi kalau kazaru (alat untuk menggerakkan mata, mulut, alis dan bagian tangan) ditarik dalam sekejap mata, mata kepala gabu memancarkan cahaya kuning. Kalau dia membuka mulutnya keluar sepasang tanduk emas dari kepalanya, menggambarkan wajah yang menakutkan.
Kepala wakaotoko (baik, laki-laki): yang mempunyai wajah cantik seperti wanita. Raut muka menunjukkan umur belasan tahun dan wajah orang yang belum kawin.
Kepala oniwaka (baik, laki-laki): mempunyai wajah seperti anak-anak, matanya besar dan bulat, kedua bibirnya rapat dan berbentuk satu huruf. Tidak seperti wakaotoko dan genta, oniwaka berperan sebagai pelaku jantan yang mempunyai kekuatan dan cocok sebagai peran penjaga.
Pada boneka yang bergerak tidak hanya bagian kepala, tetapi gerakan mata, alis, dan mulut tidak kalah penting. Alis ada 2 macam, yaitu alis ugoki mayu dan tsuke mayu. Gerakan alis ada bermacam-macam tergantung dari gerakan ekspresi hati yang berbeda-beda, misalnya di waktu sedih, gembira, terkejut, dan tegang. Yang paling sulit adalah menggerakkan mata, misalnya mata dari kepala bakuya dan yashio, pada waktu tersenyum dia menggunakan ekor matanya. Kepala bakuya pada waktu mengekspresikan watak jahat, matanya berputar-putar dan menjadi berwarna kuning.
Kepala yang berperan sebagai pelaku lucu disebut kepala chari, terdiri atas:
Kepala ofuku (baik, wanita, setengah umur): menggambarkan wajah lucu sehingga membuat orang tertawa. Ekor matanya turun ke bawah, hidungnya bulat dan besar, begitu pula pipi, bentuknya bulat dan terdapat bulatan berwarna merah seperti bentuk buah apel.
Kepala matahei (baik, laki-laki, setengah umur): menggambarkan pelaku jujur yang mempunyai pembawaan dan karakter baik dan disertai lucu. Ekor matanya ke bawah dan bentuk mulutnya terbuka lebar tanpa mengeluarkan suara.
Kepala hanaugoki (jahat, laki-laki, setengah umur): hidungnya besar.
Bentuk boneka lainnya adalah tsume. Boneka tsume laki-laki diperankan sebagai pedagang, polisi, dan pejalan kaki; sedangkan tsume perempuan bertugas sebagai pembantu.

Kedua boneka tersebut tidak termasuk pelaku yang penting. Bentuk wajah boneka tsume sengaja dibuat lucu, juga alis, mata, mulut, dan hidungnya. Boneka tsume laki-laki: pada waktu singkat dapat bertukar bentuk dari wajah lucu ke wajah marah. Bagian wajah marah ini diberi warna merah.
Baca: Buku Pengantar Kesusastraan Jepang
Comments
Post a Comment