Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /ŋ/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itəm/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itɔm/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...
4. Sistem Integrasi
Tingkat formalitas kehidupan sosial, tingkat keterikatannya pada tradisi sangatlah tinggi pada masa Tokugawa, sehingga menjadikannya tidak terbuka bagi pembaharuan atau sedikit sekali memungkinkan adanya keragaman. Ini merupakan hal penting bagi sistem integrasi karena formalisasi itu dalam banyak situasi menyingkirkan kemungkinan konflik. Faktor yang mendukung kesetiaan kepada bentuk-bentuk yang telah ditentukan ini adalah prinsip kepada bentuk-bentuk kelompok. Ketidakmampuan untuk mengikuti norma dianggap bukan hanya urusan tanggung jawab pribadi. Keluarga, kelompok lima keluarga(21) dan bahkan desa atau distrik bisa-bisa terlibat dalam tanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh satu orang. Dengan demikian setiap orang dalam tindakan sosialnya berada dalam peran representasi kolektivitas primernya. Satu langkah yang salah akan membahayakan tidak hanya dirinya tetapi mungkin mendatangkan celaka atas kelompoknya atau paling tidak menjadikannya sasaran cacian dan ejekan. Selain itu kelompok sendiri cenderung menempatkan konformitas kepada norma-norma sosial lebih tinggi dari keanggotaan kelompok sehingga, selain sanksi sosial dari luar, seorang pelanggar kemungkinan besar akan mendapatkan penolakan, bukannya dukungan, dari kelompoknya dalam kasus pelanggaran berat yang dilakukannya. Keadaan ini menyebabkan identifikasi yang kuat dengan kolektivitas dan kecenderungan bagi semua subkolektivitas untuk mendukung moralitas dari keseluruhan kolektivitas, apa pun resikonya bagi mereka. Ini mungkin seperti yang diuraikan oleh Durkheim dan disebutnya sebagai solidaritas mekanik. Solidaritas ini sangatlah kuat dan bisa jadi merupakan mekanisme integrasi utama.
Sebaliknya, "solidaritas organik" relatif lemah. Konsep hubungan yang saling menguntungkan antar orang yang berasal dari jenis kelompok yang berbeda atau antara kelompok-kelompok itu sendiri, kalau dihubungkan hanya oleh fungsi saling melengkapi dan bukan ikatan partikularistik, kemungkinan hanya akan terdapat dalam teori tetapi kecil sekali pengaruhnya.(22) Dalam keadaan seperti ini jelaslah bahwa jika identifikasi dengan keseluruhan masyarakat, ketegangan yang serius yang mengarah kepada faksionalisme akan muncul. Faksionalisme memang menyebar luas pada masa Tokugawa, juga pada masa Jepang modern. Keseluruhan situasi nampaknya berkaitan erat dengan kenyataan bahwa partikularisme mengatasi universalisme dalam sistem nilai.
Solidaritas yang berdasarkan ikatan bersama terhadap religi institusional lagi-lagi secara relatif lemah sebagai satu mekanisme integrasi utama. Hal ini disebabkan karena terdapat keragaman yang tinggi pada sekte sehingga relatif sedikit saja orang yang bergabung dalam satu koletivitas religius dan bahwa religi justru menjadi salah satu dasar berkembangnya faksionalisme sebagaimana diutarakan di atas. Sebaliknya, sejauh kolektivitas-kolektivitas utama dalam masyarakat, termasuk keluarga dan bangsa, semuanya adalah kolektivitas religius (masalah ini akan dibahas lebih mendalam nanti), religi secara khusus memperkuat "solidaritas mekanik". Pada kenyataannya, sebagaimana yang terlihat, mekanisme ini memang berhasil hanya karena dia bisa menggabungkan pada dirinya elemen solidaritas yang didasarkan atas ikatan religius.
Pelembagaan hak milik berkembang cukup baik. Secara teoritis hak pemilikan tanah tidak bisa dialihkan, tetapi dengan dalih hukum universal ketentuan ini menjadi berlaku hanya di atas kertas, dan pada kenyataannya tanah banyak diperjualbelikan. Pemilik bebas lebih banyak jumlahnya, tetapi terdapat perkembangan yang cukup luas juga dalam penyewaan pada masa itu, walaupun para tuan tanah biasanya memegang bidang tanah yang relatif kecil. Maksudnya, perkembangan mengarah kepada banyaknya golongan tuan tanah kecil, bukannya kecenderungan sedikit tuan tanah dengan luas bidang tanah yang besar. Bukan hanya hak tanah saja yang bisa dialihkan tetapi banyak jenis harta milik juga demikian. Sebagai misal, keanggotaan gilda juga bisa dijual, seperti juga kursi pada pasar bursa, dan nilainya turun naik sesuai kondisi ekonomi. Semua bentuk hak dan status juga bisa dijual dengan prinsip ekonomi yang sama. Bahkan kedudukan hamamoto, pembantu langsung shogun, bisa dijual sehingga ada orang yang pada waktu itu membeli sejumlah kedudukan dengan akibat bahwa dia bisa mengumpulkan banyak gaji dari kedudukan yang telah dibelinya itu. Tentu saja ini dianggap penyalahgunaan, tetapi tidak ada satu pemerintah pun yang mampu menghentikannya. Adopsi ke dalam keluarga samurai juga merupakan komoditi di pasar terbuka dan harganya bervariasi dari waktu ke waktu. Contoh-contoh ini menunjukkan bagaimana uang telah merasuk ke dalam struktur feodal itu sendiri, dan menghasilkan suatu pengenalan konsep pengalihan hak ke dalam wilayah yang akibatnya adalah rusaknya status quo. Semua itu merupakan mekanisme yang memungkinkan terjadinya mobilitas lebih besar dalam masyarakat yang secara ekonomi bersifat ekspansif ini, dibanding dengan yang dimungkinkan oleh pola ideal yang ada. Dengan demikian, dia memang berfungsi sebagai pengaman agar tidak terjadi kebekuan. Bahwa pada akhirnya dia bukan merupakan pemecahan yang terbaik, mungkin justru merupakan satu fakta lagi yang ada di balik kejatuhan keshogunan Tokugawa.
Masa Tokugawa menyaksikan awal dari sistem kedudukan sosial atau jabatan modern. Sebelumnya, terdapat banyak kekaburan tentang konsep status, jabatan, atau kedudukan. Kelompok-kelompok status inti—prajurit, petani, pengrajin dan pedagang—dalam pengertian tertentu jelas merupakan kelompok-kelompok kedudukan sosial (shokugyo). Dengan demikian, kewajiban seseorang untuk tetap memegang statusnya dalam arti menyadari tempatnya ndalam hirarki "feodal" yang ada berbaur hampir tanpa terasa dengan kewajiban untuk melaksanakan "tugas keseharian"nya. Kita akan masih menyinggung lebih banyak masalah ini di belakang nanti. Dalam hal ini, masa Tokugawa menjadi saksi bermulanya suatu sistem jabatan yang jauh lebih kompleks dari yang dicerminkan dalam klasifikasi status bersegi empat yang sederhana. Birokrasi mulai dikembangkan baik oleh bakufu maupun han yang, walaupun berasal dari kelas samurai, tidak berarti mempunyai sifat dan kepentingan yang sama dengan mereka. Banyak kantor yang diisi berdasarkan pertimbangan kemampuan, artinya menerapkan kriteria umum dalam seleksi, walaupun kelompok yang dianggap layak untuk diterima secara partikularistik dibatasi. Bakufu berada di belakang satu "universitas" di Edo dan sejumlah han mempunyai sekolahnya sendiri tempat anak-anak berbakat dari keluarga samurai belajar. Sifat pendidikannya tradisional dan Konfusian, tetapi para pejabat pada kenyataannya banyak dipilih dari antara produk sekolah ini yang dalam hal ini dapat berfungsi sebagai "saringan" untuk kriteria umum yang digunakan.
Kelas profesional mulai muncul di kalangan kelompok-kelompok sosial tertentu di kota-kota besar dalam beberapa kedudukan seperti pengobatan, pengajaran privat, dan beberapa profesi yang berkaitan dengan industri penerbitan skala besar. Kemungkinan jabatan ini banyak diisi oleh mereka yang berasal dari kelas samurai yang karena satu dan lain hal tidak mengabdi pada seorang pangeran. Tidak jarang terjadi seorang samurai mengajukan permintaan kepada tuannya untuk dibebastugaskan supaya dia bisa pindah ke kota dan memasuki suatu kedudukan tertentu. Kendati demikian, kebanyakan kedudukan ini terbuka untuk siapa pun dari kelas sosial manapun. Satu contoh yang pernah terjadi, misalnya, Ishida Baigan (1685-1744) yang terlahir sebagai seorang petani dan setelah itu bekerja sebagai pedagang, akhirnya menekuni profesi guru privat. Beberapa penulis terkemuka pada masa itu berasal dari keluarga samurai dan sebagian berasal dari kalangan chonin. Hal yang penting dalam "profesi-profesi" awal ini adalah orientasinya yang lebih tertuju kepada kedudukan itu sendiri sedangkan status individu yang mendudukinya tidaklah diperhitungkan. Hubungan yang terjadi antara kaum profesional dan kliennya didasarkan pada jasa yang dibutuhkan oleh klien dan bukan sebagai akibat dari hubungan partikularistik yang sudah ada sebelumnya. Namun, tetapi masih diharapkan bahwa hubungan antara, misalnya, guru dan murid akan menjadi lebih baur dan partikularistik segera setelah murid diterima dibanding yang terjadi di Barat. Kecenderungan ini tetap bertahan bahkan di zaman modern ketika sistem pendidikan Barat telah diterapkan secara menyeluruh.
Sejauh ini kita telah membuat sketsa dari beberapa kecenderungan "modern" pada kedudukan sosial yang berada di luar ekonomi, yang lebih berkaitan dengan peran "politik" atau "budaya". Struktur jabatan yang relatif kompleks dan terpilah rinci dalam ekonomi sendiri telah disinggung banyak dalam pembahasan tentang ekonomi di atas.
Baca: Buku Religi Tokugawa, Akar-akar Budaya Jepang
------------------------------
(21) Fungsi dari kelompok lima keluarga (gonin-gumi) akan dibahas lebih lanjut dalam bab kemudian.
(22) John Pelzel melihat adanya kesulitan dalam menetapkan manfaat yang saling menguntungkan atau menetapkan hubungan bisnis lainnya antar perusahaan yang mempunyai status dan kekuasaan setara. Hampir semua hubungan bisnis penting terjalin antara perusahaan yang lebih lemah dengan perusahaan yang kuat, dan hubungannya pada dasarnya bersifat bapak-anak; perkongsian, misalnya, amat sangat jarang terjadi. Lihat "The Small Industrialist in Japan".

Comments
Post a Comment