Skip to main content

Jenis Fonem

Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /Å‹/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itÉ™m/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itÉ”m/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...

Konsep-konsep Dasar

Konsep-konsep Dasar


1. Konsep-konsep Dasar


Nampaknya religi Jepang mempunyai dua konsep dasar mengenai ketuhanan. Yang pertama adalah tuhan sebagai suatu entitas lebih tinggi yang memelihara, memberikan perlindungan dan cinta. Contoh-contoh untuk ini mencakup dewa-dewa Langit dan Bumi dari penganut Konfusius, Amida dan Budha-Budha yang lain, dewa-dewa Shinto, selain para dewa pelindung lokal dan para nenek moyang. Kategori ini secara perlahan-lahan dan tanpa terasa bergeser menjadi tokoh-tokoh negara dan orang tua yang dalam beberapa hal diperlakukan secara sakral. Tindakan-tindakan religius yang ditujukan kepada entitas-entitas ini bercirikan sikap hormat, syukur atas rahmat yang diterima dari mereka, dan usaha-usaha untuk membalas rahmat tersebut.(1)

Konsep dasar yang kedua lebih sulit untuk dijelaskan. Mungkin rumusan yang tepat adalah bahwa dia merupakan dasar dari segala yang ada atau inti terdalam dari realitas. Contoh-contoh untuk ini adalah tao Cina; li dari neo-Konfusius yang sering diterjemahkan sebagai nalar, dan hsin, hati atau pikiran, kalau dikaitkan dengan li; konsep Budha tentang hakikat Budha; dan istilah kami dalam Shinto dalam pengertiannya yang paling filosofis. Kegiatan religius yang ditujukan kepada entitas-entitas ini adalah usaha para pengikut untuk mencapai kondisi menyatu dengan dasar dari segala yang ada dan hakikat realitas ini. Kegiatan religius semacam ini akan dibicarakan lebih rinci pada bagian kemudian.

Dua konsep ketuhanan ini hendaknya tidak dilihat sebagai saling bertentangan. Keduanya terdapat dalam hampir semua sekte dan tidak dirasakan sebagai dua hal yang saling meniadakan. Setiap kemungkinan konflik selalu bisa dipecahkan dengan teori tentang tingkat-tingkat kebenaran, yang dalam hal ini konsep yang kedua dianggap lebih dalam. Namun, hanya beberapa bentuk Zen yang ekstrem saja yang secara radikal menolak dewa-dewa dari konsep pertama. Sekte-sekte Tanah Murni, sebaliknya, menekankan ketaatan kepada Amida, dewa dari konsep pertama, dalam bentuk yang agak eksklusif, tetapi tetap membuka pintu bagi penafsiran metafisik yang dapat membuka jalan menuju konsep ketuhanan tipe kedua. Di antara dua ekstrem ini kebanyakan sekte dan gerakan yang beragam itu menekankan kombinasi dari konsep-konsep tersebut.

Konsep tentang alam merangkum kedua aspek sikap terhadap tuhan tersebut. Alam adalah kekuatan pemelihara yang penuh kebajikan yang harus dihargai oleh manusia, dan dia merupakan perwujudan dari sumber kejadian. Manusia dapat masuk ke dalam inti realitas dan menyatu dengannya melalui pemahaman atas bentuk-bentuk alam. Alam tidaklah terpisah dari para dewa atau manusia tetapi menyatu dengan keduanya.

Manusia adalah makhluk penerima karunia tak terbatas dari tuhan, alam, para atasan, dan akan tak berdaya tanpa semua karunia tersebut. Dia sekaligus adalah "alamiah" dan "ilahiah". Dia adalah mikrokosmos di mana yang ilahi dan alam adalah makrokosmos. Dia adalah "bentuk kecil langit dan bumi", di dalam dirinya terkandung hakikat Budha, atau tao, atau li, atau nuraninya (hoshin, ryoshin) tidaklah beda dari li. Jelaslah dari apa yang dipaparkan di atas bahwa sifat dasar manusia dianggap baik. Dengan demikian, pemecahan Mencius untuk masalah hakikat manusia dapat dianggap sebagai ciri khas kebanyakan religi Tokugawa. Namun, perlu dikemukakan bahwa sifat dasar atau hakikat manusia saja yang baik. Dalam kehidupan nyata sifat dasar ini bisa jadi kabur oleh kotoran yang berupa kepentingan dan hasrat pribadi.

Sifat jahat yang radikal cenderung diingkari ada pada manusia, alam, atau ketuhanan. Kejahatan dijelaskan sebagai sesuatu yang relatif, hanya nampaknya saja kejahatan tetapi dalam konteks yang lebih besar pada dasarnya bukan, atau sebagai semacam "pergesekan" yang menyertai kehidupan keseharian atau "beban" yang disebabkan oleh adanya hakikat badaniah pada diri kita. Pergesekan atau beban ini membelokkan kita dari orbit alamiah kita yang sebenarnya. Tindakan membebaskan diri kita dari hasrat mementingkan diri akan memungkinkan hakikat diri kita mencapai tempatnya yang sesuai tanpa rintangan. Konsep kejahatan dari Budha sebagai akibat dari tindakan moral dalam kehidupan sebelumnya juga banyak dianut di Era Tokugawa.

Pandangan tentang kemanunggalan manusia, alam dan ketuhanan sebagaimana dikemukakan hendaknya tidak dipandang sebagai suatu identitas statis, melainkan adalah suatu harmoni dalam ketegangan.(2) Rasa syukur seseorang terhadap entitas yang mahatinggi dan mahabaik bukanlah suatu kewajiban yang ringan, tetapi menyangkut pengorbanan langsung dari kepentingan terdalam seseorang atau bahkan hidupnya. Kemanunggalan dengan dasar dari yang ada tidak dicapai dalam kondisi tidak sadar, tetapi sering kali sebagai akibat dari kejutan mendadak dalam kehidupan sehari-hari. Sesuatu yang tak terduga, sesuatu yang nampaknya kacau, sering kali lebih akan mempertemukan orang dengan kenyataan sejati daripada pengajaran resmi yang tertata rapi. Kesenian Jepang dan sikap-sikap estetik terhadap alam juga ada hubungannya dengan yang tak terduga, dengan saat-saat tegang, yang memunculkan kehidupan batin dari obyek dalam keseluruhan partikularitasnya. Simetri bukan hal yang disukai. Memang ada harmoni, tetapi harmoni yang tegang.

Ketiga tradisi religi besar di atas dikaitkan dengan sejarah masa lalu ketika semua hal dianggap lebih baik dari saat sekarang ini. Bagi pengikut Konfusius masa itu adalah abad para bijak bestari; bagi kaum Budha, masa kini atau mappo, adalah masa yang bobrok di mana orang jarang bisa memahami ajaran Budha. Para Shintois pembaharu mengingatkan kepada masa ketika para kaisar memerintah Jepang dalam kesederhanaan yang murni. Teori-teori Budha dan Konfusius tentang perubahan sejarah pada dasarnya merupakan siklus yang berputar. Masa-masa baik akan diikuti oleh masa susah dalam rangkaian yang tak berkeputusan dan masa kini dilihat hanya sebagai satu kesementaraan. Kendati demikian, kepercayaan Shinto tidak bersifat siklis, melainkan satu arah. Hanya dia di antara religi-religi besar tersebut yang percaya kepada konsep penciptaan, walaupun dalam bentuk mitologi yang agak primitif. Oleh orang Jepang penganut Shinto, sejarah dipandang sebagai saat berlakunya kehendak para dewa, dan tujuan akhir religi akan tercapai bersama perjalanan waktu dan sejarah nasib rakyat Jepang. Nichiren mengadaptasi sebagian pandangan ini dalam Budhisme unik yang dikembangkannya, yang kemudian pada Era Tokugawa juga digunakan untuk berbagai gerakan Shinto.(3)

Uraian sangat singkat tentang konsep-konsep dasar tentang tuhan, alam, manusia dan waktu di atas hendaknya cukup untuk menjadi pengantar bagi pembahasan lebih lanjut berikut ini.


Baca: Buku Religi Tokugawa, Akar-akar Budaya Jepang


------------------------------
(1) Beberapa contoh dewa yang disebut dalam alinea ini, terutama dewa langit Konfusius dan para dewa Shinto, pada mulanya mungkin tidak dianggap sebagai pemelihara, tetapi demikianlah pandangan terhadap mereka sejak awal Era Tokugawa.

(2) Konsep "harmoni dalam ketegangan" dikemukakan oleh John Pelzel untuk menghilangkan kesan kekakuan dalam pengertian harmoni. Apa yang dimaksudkan adalah bahwa dalam pengertian harmoni orang Jepang selalu terkandung gerak potensial, suatu ide yang aktif dan bukan statis. Albert Craig tidak setuju dengan kata benda "ketegangan" atau kata sifat "tegang", karena keduanya mempunyai implikasi psikologis yang tidak ada, atau bahkan ditentang, dalam konsep harmoni Jepang. Dalam upaya mencari istilah yang lebih sesuai, kami memutuskan untuk mempertahankan istilah lama, dengan mengingatkan pembaca untuk tidak mengabaikan implikasi psikologis atau ketegangan yang dikesankan oleh kata tersebut. 

(3) Konsep sejarah ini jelas bukan ciri dari Shinto masa awal, tetapi muncul dari masa-masa pertengahan, dan kemudian dikembangkan pada Era Edo. 

Comments

Popular posts from this blog

Buku Komposisi Gorys Keraf

Daftar Isi Buku Komposisi Gorys Keraf Kata Pengantar Daftar Isi PENDAHULUAN Bahasa Aspek Bahasa Fungsi Bahasa Tujuan Kemahiran Berbahasa Manfaat Tambahan Kesimpulan BAB I PUNGTUASI Pentingnya Pungtuasi Dasar Pungtuasi Macam-macam Pungtuasi BAB II KALIMAT YANG EFEKTIF Pendahuluan Kesatuan Gagasan Koherensi yang baik dan kompak Penekanan Variasi Paralelisme Penalaran atau Logika BAB III ALINEA : KESATUAN DAN KEPADUAN Pengertian Alinea Macam-macam Alinea Syarat-syarat Pembentukan Alinea Kesatuan Alinea Kepaduan Alinea 5.1 Masalah Kebahasaan 5.2 Perincian dan Urutan Pikiran BAB IV ALINEA : PERKEMBANGAN ALINEA Klimaks dan Anti-Klimaks Sudut Pandangan Perbandingan dan Pertentangan Analogi Contoh Proses Sebab - Akibat Umum - Khusus Klasifikasi Definisi Luar Perkembangan dan Kepaduan antar alinea BAB V TEMA KARANGAN Pengertian Tema Pemilihan Topik Pembatasan Topik Menentukan Maksud Tesis dan Pengungkapan Maksud ...

Sejarah Kesusastraan Jepang

Buku Sejarah Kesusastraan Jepang (Nihon Bungakushi) oleh Isoji Asoo dkk. Daftar Isi Kata Pengantar Kata Sambutan Catatan dari Penyunting Daftar Isi 1.        KESUSASTRAAN ZAMAN JOODAI 1.   Garis Besar Kesusastraan Zaman Joodai 2.   Mitologi, Legenda dan Dongeng 3.   Norito dan Senmyoo 4.   Nyanyian Zaman Joodai 5.   Manyooshuu 6.   Kanshibun 2.        KESUSASTRAAN ZAMAN HEIAN 1.   Garis Besar Kesusastraan Zaman Heian 2.   Kanshibun, Waka dan Kayoo 3.   Monogatari 4.   Catatan Harian dan Essei 5.   Ceritera Sejarah dan Dongeng 3.        KESUSASTRAAN ABAD PERTENGAHAN 1.   Garis Besar Kesusastraan Abad Pertengahan 2.   Pantun Waka dan Pantun Renga 3.   Monogatari, Setsuwa dan Otogizooshi 4.   Essei, Catatan Harian dan Catatan Perjalanan 5.   Hoogo dan Kanbungaku 6. ...

Tanda-tanda Koreksi

6. Tanda-tanda Koreksi Sebelum menyerahkan naskah kepada dosen atau penerbit, setiap naskah harus dibaca kembali untuk mengetahui apakah tidak terdapat kesalahan dalam soal ejaan , tatabahasa atau pengetikan. Untuk tidak membuang waktu, maka cukuplah kalau diadakan koreksi langsung pada bagian-bagian yang salah tersebut. Bila terdapat terlalu banyak salah pengetikan dan sebagainya, maka lebih baik halaman tersebut diketik kembali. Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu, lazim dipergunakan tanda-tanda koreksi tertentu, sehingga antara penulis dan dosen, atau antara penulis dan penerbit, terjalin pengertian yang baik tentang apa yang dimaksud dengan tanda koreksi itu. Tanda-tanda koreksi itu dapat ditempatkan langsung dalam teks atau pada pinggir naskah sejajar dengan baris yang bersangkutan. Tiap tanda perbaikan dalam baris tersebut (kalau ada lebih dari satu perbaikan pada satu baris) harus ditempatkan berturut-turut pada bagian pinggir kertas; bila perlu tiap-tiapnya d...