Jenis Fonem Jenis fonem yang dibicarakan di atas (vokal dan konsonan) dapat dibayangkan sebagai atau dikaitkan dengan segmen-segmen yang membentuk arus ujaran. Kata bintang , misalnya, dilihat sebagai sesuatu yang dibentuk oleh enam segmen — /b/, /i/, /n/, /t/, /a/, /ŋ/. Satuan bunyi fungsional tidak hanya berupa fonem-fonem segmental. Jika dalam fonetik telah diperkenalkan adanya unsur-unsur suprasegmental, dalam fonologi juga dikenal adanya jenis fonem suprasegmental. Dalam bahasa Batak Toba kata /itəm/ berarti '(pewarna) hitam', sedangkan /itɔm/ (dengan tekanan pada suku kedua) berarti 'saudaramu'. Terlihat bahasa yang membedakan kedua kata itu adalah letak tekanannya, sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan bersifat fungsional. Lain lagi yang diperlihatkan dalam contoh bahasa Inggris berikut. Di sini perubahan letak tekanan tidak mengubah makna leksikal kata, tetapi mengubah jenis katanya. Kata benda Kata kerja ‘import ‘impor’ ...
Bab III
RELIGI JEPANG: TINJAUAN UMUM
Sebagaimana gambaran yang diberikan oleh judul bab ini, nampaknya cukup berdasar jika kita memandang religi Jepang sebagai satu entitas walaupun dalam perwujudannya terdapat banyak sekali sekali keragaman. Terutama menjelang masa-masa Tokugawa sangat banyak peminjaman terjadi antar bermacam religi besar sehingga orang dapat saja menyatukan beberapa elemen yang umum terdapat di semua religi kemudian memberinya label "religi Jepang". Dalam religi nasional dan religi keluarga semua tradisi dari religi-religi besar terwakili dan berbaur hampir tanpa dapat dipilah lagi. Konfusianisme dan Shinto banyak meminjam atau mengambil metafisika dan psikologi Budhisme; Budhisme dan Shinto telah meminjam etika Konfusius; sedangkan Konfusianisme dan Budhisme telah pula sepenuhnya dijepangkan. Kendati demikian, di samping tingginya homogenitas yang ada, beberapa sekte lebih menekankan ajaran-ajaran umum tertentu lebih dari yang lain, dan dalam setiap sekte tersebut ajaran-ajaran itu dibentuk dalam susunan yang sedikit berbeda. Akibatnya sering kali terjadi pembahasan tentang bagian-bagian religi yang berbeda tersebut sebagai satu hal yang terpisah.
Sebelum kita meneruskan uraian tentang masalah ini perlu kiranya dikemukakan keterangan lebih lanjut tentang teori religi yang dipakai sebagai dasar dalam tulisan ini. Menurut pandangan kami, fungsi sosial utama dari religi adalah untuk memberikan kerangka makna bagi nilai-nilai dasar dalam masyarakat dan untuk menjawab tantangan terhadap nilai-nilai tersebut yang berasal dari frustasi-frustasi dasar situasi kemanusiaan. Kedua fungsi dasar tersebut menuntut adanya satu sistem maha tinggi yang bersifat mendasar. Sistem maha tinggi ini memberikan konteks metafisik bagi nilai-nilai sentral, yang karenanya memberikan landasan makna yang fundamental pula baginya. Selain itu sistem tersebut juga memberikan sumber kekuatan dasar dan makna yang dapat menunjang dan memenuhi motivasi manusia dalam menghadapi frustasi dasar. Sampai batas tertentu ancaman terhadap sistem sosial yang tidak bisa dihadapi pada tingkat nyata, sehingga menimbulkan banyak ketegangan yang tidak tersalur, dapat ditangani oleh mekanisme ritual keagamaan, rasionalisasi, pertobatan, dan sebagainya. Namun, di luar ancaman-ancaman semacam ini dapat memperlemah pelembagaan sistem religi itu sendiri. Metafisika yang lama mungkin dirasa tidak mencukupi lagi untuk memberi makna kepada kondisi-kondisi baru dan sumber kekuatan yang lama tidak mencukupi lagi untuk menjawab tantangan-tantangan baru. Dalam kondisi demikian konsepsi lama tentang sistem tingkat tinggi itu mungkin akan berubah dan lembaga-lembaga religi baru berkembang sebagai saluran bagi arus motivasi keagamaan ke arah yang baru. Perubahan-perubahan dapat pula terjadi dalam situasi semacam ini tanpa adanya perkembangan lembaga-lembaga religi baru. Dalam hal ini, sistem religi yang lama mungkin akan kehilangan sebagian kekuatannya dalam mempertahankan pola nilai dan menangani ketegangan tanpa mampu memberi pengimbang. Ini akan menjadikan semakin besarnya anomie (kekacauan), sementara ketegangan dalam masyarakat juga akan semakin meninggi, sehingga berakibat buruk terhadap fungsi-fungsi non-religius. Sampai batas tertentu kecenderungan-kecenderungan semacam ini akan mengarah pada hancurnya masyarakat. Kendati demikian, ada kemungkinan juga bahwa dalam kondisi demikian masyarakat dapat terus berfungsi, walaupun dengan tingkat anomie dan ketegangan yang agak tinggi, yang bervariasi dari masyarakat yang satu ke lainnya. Sebaliknya, dari apa yang telah kita bicarakan, perubahan tanpa perkembangan lembaga-lembaga religi baru dalam situasi yang genting akan berfungsi memperkuat sistem religi yang lama. Usaha-usaha religius untuk mempertahankan pola lama dan mengatasi ketegangan mungkin akan menjadi lebih menguat dan sistematis, dan motivasi yang dapat disalurkan ke sebagian subsistem non-religi akan lebih banyak, bukannya berkurang.
Situasi sebagaimana digambarkan terakhirlah yang nampaknya terjadi di Era Tokugawa. Tidak ada orientasi religius yang betul-betul baru yang berkembang, tetapi sebagai jawaban terhadap adanya ketegangan yang sebagian disebabkan oleh adanya diferensiasi dan kompleksitas dalam masyarakat itu sendiri, sistem religi yang ada diperkuat dan pengaruhnya diperluas. Tujuan dari bab ini adalah membahas sistem keagamaan lama yang sudah ada sejak awal era Tokugawa. Dua bagian berikut selanjutnya akan membahas proses intensifikasi dan perluasan sistem tersebut yang berlangsung pada masa Tokugawa.
Baca: Buku Religi Tokugawa, Akar-akar Budaya Jepang

Comments
Post a Comment